Minggu, 05 Juli 2015

Pagi yang tersipu..

Hari ini tanggal 06 Juli 2015 adalah salah satu hari yang mungkin akan selalu saya ingat, bukan karena sebuah prestasi, bukan karena sebuah penghargaan bergengsi, hanya sepenggal kisah yang membuat saya ingin tersenyum sekaligus malu tapi anehnya ada rasa senang.
Pagi ini pukul 05.30 saya pergi mengantar adik saya serta teman barunya untuk menjalani MOPD sekolahnya bahkan saat matahari masih tersembuyi dan bayangan bulan masih menggantung samar berwarna awan diatas langit biru dan lengkap dengan hawa yang sangat dingin. Karena jaraknya cukup jauh dan harus naik angkot 2 kali sementara adik saya ini tidak tahu jalan sama sekali maka saya harus menjadi penunjuk jalan bagi dia dan temannya ini, dimana harus naik dimana harus berhenti.
Pada angkot pertama ketika berangkat saya disapa oleh seorang ibu-ibu setengah baya yang akan berangkat ke pasar Induk di Tasikmalaya, beliau sepertinya mengenal saya tapi saya tidak mengenal beliau. Sepanjang jalan diisi oleh obrolan mengenai sekolah dll, pembicaraan yang menarik namun ibu itu harus turun duluan karena suda sampai di tempat tujuannya yaitu pasar Cikurubuk. Pasar hari itu, sepagi itu sangat ramai, sangat dinamis, sama seperti dinamis dan menggeliatnya pasar malam.
Perjalanan masih sekitar setengah jam lagi untuk sampai, dan kami akhirnya berganti angkot di pasar Pancasila. Kali ini perjalanan sangat sepi, karena tak ada obrolan yang menarik, saya juga hanya berusaha berbasa-basi mengenai jurusan sekolah adik saya dan temannya itu dan setelah itu tak lama kami sampai di sebuah SMA yang lokasinya sangat asri dan sejuk walaupun pada jam-jam tertentu keheningan itu akan terganggu oleh suara kereta yang lewat. Singkat kata saya melepas adik saya untuk MOPD dan tidak lupa memberikan semangat dan wejangan (halah..), saya tetap berada pada tempat saya berdiri tadi sampai adik saya masuk ke gerbang sekolahnya, setelah itu saya beranjak melangkahkan kaki untuk pulang. Selangkah dua langkah saya merasakan ada hal yang sepertinya "sedikit" aneh dengan kaki saya, lalu saya meliat kebawah dan melihat pemandangan yang waaw perlu pemikiran untuk mencerna sambil memikirkan apa yang harus saya lakukan. Yaah sandal saya putus, jebol, alias rusak pada bagian kaki kiri. Bingung, rasanya ketika sandal kita rusak dan putus ditempat yang bisa dibilang sepi banget soalnya tidak memungkinkan untuk nyari sendal karena tidak ada toko bahkan satupun warung. Tapi akhirnya saya jalan juga naik angkot, kaki saya sebelah kiri saya seret biar sendalnya tetep nempel tapi percuma juga. Naik angkot pada saat itu adalah pilihan sangat tepat karena saya duduk, tapi kan saya harus sekali lagi naik angkot dan tidak mungkin saya nyeker sebelah. Akirnya tibalah saat-saat yang sangat memalukan, saya turun sengaja didepan sebuah toko 24 jam karena saya tahu disana ada penyelamat kaki dan muka saya yaitu sendal jepit, saya turun dari angkot dengan rupa sandal yangsuda tidak berbentuk dan diseberang sana ada 2 bapak2 yang menertawakan saya sepertinya mereka tau kalau sendal saya putus dan akhirnya saya buang rasa malu jauh-jauh saya tenteng sendal rusak itu dan nyeker sebelah terus nanya ke teteh-teteh dan aa aa yang jaga toko nya " teh aya sendal capit teu?" saya udah pede aja gapapa lah yang penting selamat.
"Aya teh, mung anu kieu wungkul sendalna", kata teteh itu sambil mengajak saya ke rak sandal jepit itu sambil nyeker sebelah.
"Muhun teh wios ieu we teh", tunjuk saya pada sendal jepit edisi piala dunia 2014 klub Brasil.
Lalu saya bayar sandal itu dan langsung memakainya. Keluarnya dari toko itu entah kebetulan atau memang Allah SWT membantu hambanya ini untuk menjaga kebersihan, pas didepan ada bapak-bapak patugas kebersihan dengan gerobak kuningnya, saya mikir " ini sendal tadi pagi baru aja dipuji sudah mengkhianati saya ditengah jalan begini" lalu, dengan ikhlas dan tawakal saya bertanya kepada bapak kebersihan itu.
" Pak, ieu wios ngiring nyimpen didieu?" saya bertanya sambil memperlihatkan sepasang "bekas" sandal itu
"Oh muhun neng, lebetkeun we kana roda" kata bapak itu sambil tersenyum
"Hatur nuhun pak" saya menutup percakapan itu, lalu pergi beranjak untuk mencari angkot arah rumah saya.

Sedikit berjalan sambil menunggu angkot, saya berpikir dan merunut kejadian pagi ini. Malu memang, tapi tanpa diduga ini menghadirkan sensasi petualangan kecil untuk menantang mental, mengalahkan rasa malu, dan menerima keadaan yang terjadi. Ini saya anggap sebagai refleksi dari sebuah cobaan hidup, jika saya tidak berani melangkah karena malu, maka saya tidak akan sampai pada titik dimana saya bisa mengalahkan cobaan itu... Pelajaran bisa didapat dari mana saja, dengan cara apapun. Sang Maha Pencipta Allah SWT memang tidak pernah kehabisan ide dalam mengingatkan hambanya, dengan cara unik dan mungkin terdengar sepele ini Allah mengajarkan saya sesuatu yang jauh lebih besar dari hanya sekedar "dongeng sandal putus" tapi jauh dari itu Subhanallah...

Pukul 06.45 pagi ini saya sampai kembali dirumah, lalu mengetik cerita ini dan membaginya kepada semua... This is really meaningful for me :) 

Pagi yang tersipu ini sungguh membuat saya tersipu..


Tasikmalaya, 06 Juli 2015



Yuli Yuliani

Minggu, 21 Juni 2015

Malu oleh mereka...

Alhamdulillah masih bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan, Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk belajar banyak hal baru dari manapun sumbernya.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya kemarin sore saat saya mengantar adik saya sekalian ngabuburit ke sebuah bengkel motor. Tidak ada yang istimewa dengan sore itu pada awalnya, sampai pada saat saya menunggu selesainya kepentingan adik saya di bengkel itu saya menunggu disebuah kursi dipinggir jalan dan menghadap kejalan raya. Seperti biasanya, saya sedang melihat kesekeliling jalan memperhatikan banyaknya kendaraan yang lewat hilir mudik, tiba-tiba saja lewat didepan mata saya seorang bapak setengah baya tanpa alas kaki mendorong gerobak, pekerjaan bapak itu sudah jelas beliau adalah seorang pencari barang-barang bekas atau istilahnya barbek. Saya terpana dengan pemandangan didepan mata saya itu, beliau melintas dengan mendorong gerobak itu susah payah, beliau juga seorang yang memiliki disabilitas sebelah kakinya lebih panjang sehingga ketika beliau berjalan melangkah kaki kirinya diangkat oleh tangan kirinya selangkah demi selangkah, saya tak membayangkan betapa perih telapak kaki tanpa alas berjalan diatas aspal yang panas, jika itu saya pasti kaki ini sudah melepuh.

Rasanya sedih, rasanya teriris melihat pemandangan itu, tapi jauh dalam diri saya melihatnya merasa bangga pada beliau dan saya merasa malu jika saya melihat kedalam diri saya. Dia, bapak setengah baya tanpa alas kaki itu mampu berjuang hidup dengan usahanya, dengan keringatnya, dan bukan meminta-minta. Dia masih tetap berjuang, berjalan jauh, menghalau teriknya matahari, panasnya aspal jalanan, demi mempertahankan apa yang Allah SWT telah anugerahkan kepadanya yakni kehidupan itu sendiri. Saya tak mengenalnya, sayapun tak tahu bagaimana kehidupan sebenarnya, tapi saya melihat dia lewat didepan saya dan membuat saya merasa terenyuh, Allah SWT menegur hambanya dengan cara apapun, Alhamdulillah.

Saya benar-benar merasa malu, ketika saya masih selalu merasa kekurangan dan tidak bersyukur atas anugerah yang Allah berikan, terkadang hanya cobaan yang saya ingat padahal nikmat dan rejeki yang Allah SWT berikan jauh lebih besar. Saya malu, karena mereka bisa berjuang berbuat sesuatu untuk penghidupannya, sedangkan saya yang katanya seorang sarjana masih belum bisa berbuat apa-apa bahkan hanya untuk diri saya sendiri, saya hanya menunggu sebuah pekerjaan datang, bukan mulai bekerja menciptakan pekerjaan itu, saya malu benar-benar merasa malu... Alhamdulillah Allah SWT masih mengingatkan saya atas hal yang saya lupakan.


Tasikmalaya, 20 Juni 2015...

Sabtu, 06 Juni 2015

New Idol in Men's Single Badminton Player " Jonatan Christie"

Kali ini mau cerita tentang salah satu atlet muda Bulutangkis Indonesia yang dua tahun terakhir ini sedang mencuri perhatian para remaja wanita dan membuat cemburu remaja pria yepp dia adalah Jonatan Christie.

Jonatan Cristie adalah atlet kelahiran September 1997, atlet muda yang baru akan berusia 18 tahun ini menjadi salah satu harapan regenerasi atlet badminton Indonesia di sektor tunggal putra setelah senior-seniornya yaitu Tommy Sugiarto, Dionisyus Hayom Rumbaka, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso. Pada helatan BCA Indonesia Open Super Series Premier pada Juni ini Istora Senayan seolah kedatangan bintang baru, karena biasanya para pendukung terutama kaum hawa sangat mengelu-elukan pebulutangkis asal Korea Selatan Lee Yong Dae.
Karir Jonatan Christie dimulai saat dia bergabung dengan klub Tangkas Jakarta, dan pertama kali ia dikenal justru bukan dari ajang bulutangkis melainkan dari sebuah film biografi Liem Swie King yang berjudul "King" pada tahun 2009 silam. Jo (sapaan akrab Jonatan) menjadi salah satu pemain pendukung dalam film itu bersama para atlet junior Djarum Kudus. Jo berperan sebagai Arya, tokoh antagonis teman satu klub Guntur (Liem Swie King) di Klub Banyu Tumangkas Banyuwangi. Akting jo yang alami membuatnya dikenal masyarakat umum.

Tahun lalu pada ajang Indonesia Open SSP 2014, Legenda hidup bulu tangkis Indonesia yang memiliki Backhand Smash kuat Taufik Hidayat secara simbolis raket estafet kepada Jonatan didepan publik Istora. Sebagai lambang bahwa kini atlet-atlet muda yang akan berjuang membela nama Indonesia di mata dunia lewat Bulutangkis. 

Prestasi Internasional Jo di kelas senior baru dimulai, pada ajang Indonesia open 2015 kali ini jo harus puas sampai pada babak perempat final setelah dikalahkan unggulan ke 3 asal Denmark Jan O Jorgensen lewat 2 game langsung. Namun prestasi ini patut diapresiasi, para pemain yang masuk lewat jalur kualifikasi ini harus bertemu dengan lawan-lawan yang jauh lebih matang dan senior dari babak awal. 

Semoga regenerasi terus berjalan, tidak hanya berhenti sampai disini. Ada potensi besar pada pemain ini, dengan usia yang masih muda, dan wajah yang rupawan mungkin nanti Jo akan menjadi bintang lapangan yang membuat bangga Indonesia. Aamiin.

Jonatan Christie
Sumber : www.google.com


Minggu, 31 Mei 2015

Dimensi 11

Angka 11 adalah sebuah angka yang mengiringi dan Allah takdirkan melekat sejak saya menangis untuk pertama kalinya didunia ini, bukan angka yang tersurat, hanya tersirat saja.
Perjalanan hidup sudah memasuki tahap yang bukan lagi anak-anak, bukan lagi remaja, tapi harus berubah menjadi dewasa. 
Juni dan Dzulhijjah adalah bulan-bulan yang menggambarkan siapa saya, kapan Allah mengijinkan aku menghirup nafas fana dunia, hal yang patut disyukuri meskipun menurut para pemikir manusia yang paling beruntung ialah dia yang tidak pernah dilahirkan tapi menurut saya sebuah kelahiran adala anugerah Allah SWT agar sebuah ruh dan raga yang Dia ciptakan lebih mengenal Dzat penciptanya, lewat hidup ketika ruh jauh dan tak dapat berjumpa dengan penciptanya akan menjadi sebuah kerinduan yang teramat sangat untuk kembali.
Sampai detik ini, belum ada hal yang terbaik yang saya lakukan untuk memupuk kerinduan itu. Belum menjadi manusia yang bisa menjadi manusia seutuhnya, tapi saya sangat bersyukur karena selama petualangan didunia ini Allah memberikan 2 malaikat penjaga yang begitu mempesona, malaikat tanpa sayap yang selalu menuntun tangan ini melewati setiap peringatan rindu dari sang Maha Cinta, yang selalu lembut mengahangatkan hati...

Alhamdulillah...

Minggu, 29 Maret 2015

Akar..

Aku tidak pernah tahu apa yang harus kurasa, kugambar, bahkan hanya untuk kupikirkan
Terlalu banyak cerita yang datang namun hanya sekilas, tapi kenapa memberikan efek yang sangat lama untuk sebuah wadah yang bernama jiwa ini?
Seperti akar tanaman yang selalu menyerap air, rasanya pot yang disiram ini terlalu penuh kelebihan air hingga akarnya membusuk hampir mati..
Segenggam bara yang menyala merah ditangan bahkan tak mampu menguapkan air yang menumpahi pot kecil yang itu..
Kadang aku bertanya, hanya kepada diri kenapa ia harus selalu bertanya?
Padahal cukup berjalan tanpa harus menoleh, padahal cukup saja diam seperti yang selalu terlihat..
Akar-akar panjang yang mencuat keluar menimbulkan rasa yang sukar tertata oleh logika, betapa merusak..
Ini itu menjadi hanya sebuah tanda tanya tanpa jawaban, ini bukan retorika!
Soe Hok Gie pernah menulis sajak sebuah tanya, ia juga merasa gelisah dengan ribuan pertanyaan yang takkan pernah dia tahu dimana jawaban itu..
Sebenarnya bukan ia tidak tahu dimana jawabannya, ia tahu kemana harus ia cari tapi ia tertawan kepingan tanya lain yang melenyapkan tanya yang satu..
Filosofi kehidupan tak akan pernah hilang, selama manusia masih dipinjamkan raga oleh Sang Pencipta..
Kadang seperti air yang mengalir, bisa kering, bisa berarus, bisa tenang, bahkan bisa banjir...
Rupa akarnya pun bermacam, rupa tanya nya pun tak kalah rumit..
Ada yang terlupa, ada yang memanjang, ada yang terlalu basah dan ada pula yang kering kerontang..
Semakin mencapai ke atas tanah, akan semakin lemah, karena itu bukan tempatnya..
Akar hanya dibawah tanah, dipermukaan tanah namanya pohon, diatas lagi ada buah..
Semakin rumit bukan, semakin banyak dan berwarna..
Tanya itu kembali bertanya dan bertanya..

Jumat, 13 Maret 2015

Bangsa ? Apa itu?

Hari ini saya benar-benar marah dengan apa yang terjadi pada drama politik Indonesia. Terlalu banyak drama, iya benar tak akan pernah ada yang menyalahkan sampai mereka-mereka sampai berbuat seperti itu karena arti dari politik itu sendiri adalah segala usaha untuk memperoleh kekuasaan, jadi mereka tidak salah memang. Jika tak berkuasa berarti mereka gagal politik dong. 
Saya tidak peduli apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perdebatkan selama mereka tidak membawa-bawa kepentingan rakyat yang selalu menjadi tameng kekuasaan. Kepentingan siapa? saya bahkan tak mengenal mereka tapi kenapa mereka bisa sampai "sok" tahu itu kepentingan kita? benar-benar aneh...

Jangan pernah membawa nama orang lain bahkan mengatasnamakan rakyat disaat sedang membela kepentingan pribadi. Jangan pernah mencoba menghancurkan Indonesia dengan isu murahan yang benar-benar menyebalkan. Demokrasi seperti apa yang sebenarnya diinginkan? bukankah kalian semua menentang liberalisme? tapi kenapa pemikiran kalian bahkan lebih liberal dari orang liberal.

Ayolah, menjadi dewasa untuk Indonesia jika memang benar hati kalian untuk Bangsa ini. Ayolah bersatu, saya jengah dengan segala sinetron ini... Jangan jajah negara sendiri ketika dulu bahkan mereka rela mati demi bebas dari penjajahan asing. Tolong, sedikit saja cintai Negeri yang sudah renta ini...

Ini adalah opini hasil demokrasi, saya minta maaf jika ada pihak yang tersinggung. Bukannya kalian menginginkan kebebasan tanpa intervensi dan tanpa batas. Maka saya juga ingin, dengan menyuarakan suara saya dengan tulisan ini. Selamat berdemokrasi tanpa batas :)

Minggu, 08 Maret 2015

Indonesia Tanah Darah

Indonesiaku Tanah Darah
Oleh : Yuli Yuliani

Aku adalah angkatan 90 an, dimana sudah tak bising suara dentuman nyaring
Sudah tak nampak bambu runcing
Aku adalah anak masa depan, bagi manusia masa lalu yang memikul pilu
Sudah tak tahu rasanya peluru
Dulu semua membisu, namun hati beradu dengan palu
Tak pernah diam, taka da suara namun langkah kaki menapak mantap dan bertapak
Pada tanah-tanah berdarah, arah itu justru terlihat
Kini, semua bersuara, semua nyaring namun tak bertapak
Hanya suara riuh gaduh dan membuat peluh berkeluh
Untuk apa dulu mereka rela memacu waktu, memerah susu namun berasa darah
Apakah hanya untuk nyanyian kosong sang anak yang malas melangkah, hanya tau berkata
Katanya kata adalah pedang, katanya kata lebih baik dari dentuman meriam
Namun, bisingnya kata tanpa langkah malah membuat jengah.. Nanar dan lelah
Langkah kaki, jiwa yang membara, mata yang terpejam berdoa kepada sang Mahacinta
Jiwa yang murni dipersembahkan kini hanya menjadi cerita yang menjadi kambing hitam para pencerita..
Bukan lagi pencinta, namun hanya pencerita..
Mulut terbuka, namun untuk apa jika hati dan logika mati tanpa cinta
Tak mampu lagi merasa cinta pada tanah berdarah ini…
Diatas gelimpangan mayat para pendiam yang berkata dengan jiwa dan darah, kini semua berkata rakyat lah yang harus berbuat..
Rakyat yang mana? Apa yang dibela..
Indonesia bukan hanya sekedar nama..
Indonesia adalah cinta
Indonesia adalah nyawa
Indonesia adalah tanah yang harus dibela
Indonesia adalah rumah yang Tuhan titipkan, untuk dicinta bukan untuk dicaci
Diamlah, bergeraklah bersama waktu.. Bersama langkah emas
Bicaralah, melangkahlah, bawalah jiwamu dalam kedalam rasa sang Garuda
Tanah darah yang menua…