Kamis, 13 Agustus 2015

Anger

Amarah? itu adalah sifat yang tidak baik tapi bisa menjadi baik tergantung bagaimana dan dimana amarah itu diletakkan. Saya ingin berbicara dengan tingkat emosi diri saya sendiri kali ini, saya memiliki tingkat amarah yang luamayan tinggi tapi amarah itu tidak sampai ke permukaan, orang yang melihat saya marah pasti sangat sedikit jumlahnya tapi mereka pasti sering melihat saya diam saat saya menahan amarah. Saya tidak pernah memunculkan amarah saya lewat teriakan, lewat omelan, atau apa tapi lebih menjadi diam untuk mencegah amarah itu keluar menjadi sebuah kata-kata yang mungkin akan saya sesali kemudian, dengan menahan amarah seperti yang saya lakukan ada hal positif dan negatifnya. Dampak positifnya adalah saya bisa menghindari konflik yang tidak perlu dalam satu situasi, melatih pengendalian diri, dll. Tapi dampak negatif yang bahkan saya sendiri sadari ini adalah salah satu kelemahan saya adalah ketika saya tidak mengeluarkan amarah saya ini menjadi sebuah kemarahan yang lama mereda akhirnya menimbulkan ketidaksukaan pada orang yang bersangkutan kalo dalam istilah sunda nya sih saya ini " Pundungan" ..

Sabtu, 01 Agustus 2015

Semenanjung Rasa

Kurang mengerti dengan judul yang saya tulis sendiri diatas, mungkin judul masi dijadikan pelengkap dalam sebuah tulisan padahal salah...
Oke lah terlepas dari judul dan opening words saya barusan, inti dari cerita ini mengenai rasa tentunya. Rasa itu bermacam-macam ada rasa senang, sedih, rindu, kecewa, benci, cinta, kesal, bingung, resah, gelisah dan entahlah apa lagi karena terlalu banyak. Malam kemarin saya merasakan kembali rasa yang sudah lama tak saya hiraukan sebuah rasa yang teringatkan lewat alam bawah sadar , lewt mimpi yang tidak saya ingat bagaimana alurnya tapi ketika bangun meninggalkan rasa yang sangat jelas "Sedih , Rindu, Cinta, Sesal" itu rasa yang tergabung saat saya membuka mata. Ini tentang dia, yang sudah lama tak pernah saya ingat, tentang dia yang selama ini saya coba netralkan rasanya dalam hati saya tapi mimpi itu mengingatkan kembali wajah dan mata nya yang sudah hampir saya lupa.
Miris, dramatis, ceritanya benar-benar membuat saya merasa sesak, mirip dengan kisah aslinya sebenarnya. 

Minggu, 19 Juli 2015

Perjalanan Hati

Assalamualaikum readers (kalo ada) ...
Minal Aidin Wal Faidzin ya, selamat hari raya Idul Fitri untuk semua yang merayakan. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan dan merasakan Lebaran, sedih karena Ramadhan telah berakhir.

Adat kebiasaan ada saat lebaran biasa disebut "mudik" , dan tujuan utamanya adalah silaturahmi, baik itu kepada orangtua, saudara, maupun kerabat. Tradisi mudik selalu terjadi setiap tahunnya, jalanan padat oleh pemudik dan jalanan Ibukota menjadi jalanan hanya pada saat mudik. Ingin sekali merasakan gempitanya tradisi mudik itu hehe, belum pernah ngerasain mudik kecuali pas kuliah kemarin. Rumah nenek kakek saya jaraknya tidak jauh dari rumah, rumah saudara ada dikanan kiri, beginilah nasib orang yang memang selalu tinggal ngampung tapi bukan jago kandang sih..

Hari ini sih ngerasain trip singkat kerumah nenek sama aki saya, bukan nenek dan aki kandung saya sih mereka ini Adik dari Almarhumah Nenek saya tapi udah kayak nenek sama aki sendiri. Pergi kesana selalu memberikan saya kenangan, dan memenuhi pikiran saya dengan banyak hal ketika diperjalanan. Mereka senang sekali waktu keluarga kami datang karena ketiga anaknya tahun ini tidak mudik. Jadi sedih-sedihan kasian sama mereka, dihari tua hanya tinggal berdua, jauh dari anak-anaknya. Rasanya ikut sedih dan ikut membanyangkan bagaimana nanti sedihnya orangtua saya ketika saya dan adik saya sudah memiliki kehidupan kami sendiri? mereka akan hanya berdua walaupun dari beberapa tahun lalu mereka memang dirumah sudah hanya berdua karena kami sekolah jauh. Saya jadi sedih memikirkan itu, saya tidak ingin Ibu Bapak saya merasa sepi seperti yang terjadi sama nenek dan aki saya..

Perjalanan kali ini hanya sebentar tapi menyayat hati, pada saat kami pamit pulang mereka memeluk kami sambil menangis lama sekali...

Saya akan disini, walau nanti saya tidak disini tapi saya akan kembali..


Minggu, 05 Juli 2015

Pagi yang tersipu..

Hari ini tanggal 06 Juli 2015 adalah salah satu hari yang mungkin akan selalu saya ingat, bukan karena sebuah prestasi, bukan karena sebuah penghargaan bergengsi, hanya sepenggal kisah yang membuat saya ingin tersenyum sekaligus malu tapi anehnya ada rasa senang.
Pagi ini pukul 05.30 saya pergi mengantar adik saya serta teman barunya untuk menjalani MOPD sekolahnya bahkan saat matahari masih tersembuyi dan bayangan bulan masih menggantung samar berwarna awan diatas langit biru dan lengkap dengan hawa yang sangat dingin. Karena jaraknya cukup jauh dan harus naik angkot 2 kali sementara adik saya ini tidak tahu jalan sama sekali maka saya harus menjadi penunjuk jalan bagi dia dan temannya ini, dimana harus naik dimana harus berhenti.
Pada angkot pertama ketika berangkat saya disapa oleh seorang ibu-ibu setengah baya yang akan berangkat ke pasar Induk di Tasikmalaya, beliau sepertinya mengenal saya tapi saya tidak mengenal beliau. Sepanjang jalan diisi oleh obrolan mengenai sekolah dll, pembicaraan yang menarik namun ibu itu harus turun duluan karena suda sampai di tempat tujuannya yaitu pasar Cikurubuk. Pasar hari itu, sepagi itu sangat ramai, sangat dinamis, sama seperti dinamis dan menggeliatnya pasar malam.
Perjalanan masih sekitar setengah jam lagi untuk sampai, dan kami akhirnya berganti angkot di pasar Pancasila. Kali ini perjalanan sangat sepi, karena tak ada obrolan yang menarik, saya juga hanya berusaha berbasa-basi mengenai jurusan sekolah adik saya dan temannya itu dan setelah itu tak lama kami sampai di sebuah SMA yang lokasinya sangat asri dan sejuk walaupun pada jam-jam tertentu keheningan itu akan terganggu oleh suara kereta yang lewat. Singkat kata saya melepas adik saya untuk MOPD dan tidak lupa memberikan semangat dan wejangan (halah..), saya tetap berada pada tempat saya berdiri tadi sampai adik saya masuk ke gerbang sekolahnya, setelah itu saya beranjak melangkahkan kaki untuk pulang. Selangkah dua langkah saya merasakan ada hal yang sepertinya "sedikit" aneh dengan kaki saya, lalu saya meliat kebawah dan melihat pemandangan yang waaw perlu pemikiran untuk mencerna sambil memikirkan apa yang harus saya lakukan. Yaah sandal saya putus, jebol, alias rusak pada bagian kaki kiri. Bingung, rasanya ketika sandal kita rusak dan putus ditempat yang bisa dibilang sepi banget soalnya tidak memungkinkan untuk nyari sendal karena tidak ada toko bahkan satupun warung. Tapi akhirnya saya jalan juga naik angkot, kaki saya sebelah kiri saya seret biar sendalnya tetep nempel tapi percuma juga. Naik angkot pada saat itu adalah pilihan sangat tepat karena saya duduk, tapi kan saya harus sekali lagi naik angkot dan tidak mungkin saya nyeker sebelah. Akirnya tibalah saat-saat yang sangat memalukan, saya turun sengaja didepan sebuah toko 24 jam karena saya tahu disana ada penyelamat kaki dan muka saya yaitu sendal jepit, saya turun dari angkot dengan rupa sandal yangsuda tidak berbentuk dan diseberang sana ada 2 bapak2 yang menertawakan saya sepertinya mereka tau kalau sendal saya putus dan akhirnya saya buang rasa malu jauh-jauh saya tenteng sendal rusak itu dan nyeker sebelah terus nanya ke teteh-teteh dan aa aa yang jaga toko nya " teh aya sendal capit teu?" saya udah pede aja gapapa lah yang penting selamat.
"Aya teh, mung anu kieu wungkul sendalna", kata teteh itu sambil mengajak saya ke rak sandal jepit itu sambil nyeker sebelah.
"Muhun teh wios ieu we teh", tunjuk saya pada sendal jepit edisi piala dunia 2014 klub Brasil.
Lalu saya bayar sandal itu dan langsung memakainya. Keluarnya dari toko itu entah kebetulan atau memang Allah SWT membantu hambanya ini untuk menjaga kebersihan, pas didepan ada bapak-bapak patugas kebersihan dengan gerobak kuningnya, saya mikir " ini sendal tadi pagi baru aja dipuji sudah mengkhianati saya ditengah jalan begini" lalu, dengan ikhlas dan tawakal saya bertanya kepada bapak kebersihan itu.
" Pak, ieu wios ngiring nyimpen didieu?" saya bertanya sambil memperlihatkan sepasang "bekas" sandal itu
"Oh muhun neng, lebetkeun we kana roda" kata bapak itu sambil tersenyum
"Hatur nuhun pak" saya menutup percakapan itu, lalu pergi beranjak untuk mencari angkot arah rumah saya.

Sedikit berjalan sambil menunggu angkot, saya berpikir dan merunut kejadian pagi ini. Malu memang, tapi tanpa diduga ini menghadirkan sensasi petualangan kecil untuk menantang mental, mengalahkan rasa malu, dan menerima keadaan yang terjadi. Ini saya anggap sebagai refleksi dari sebuah cobaan hidup, jika saya tidak berani melangkah karena malu, maka saya tidak akan sampai pada titik dimana saya bisa mengalahkan cobaan itu... Pelajaran bisa didapat dari mana saja, dengan cara apapun. Sang Maha Pencipta Allah SWT memang tidak pernah kehabisan ide dalam mengingatkan hambanya, dengan cara unik dan mungkin terdengar sepele ini Allah mengajarkan saya sesuatu yang jauh lebih besar dari hanya sekedar "dongeng sandal putus" tapi jauh dari itu Subhanallah...

Pukul 06.45 pagi ini saya sampai kembali dirumah, lalu mengetik cerita ini dan membaginya kepada semua... This is really meaningful for me :) 

Pagi yang tersipu ini sungguh membuat saya tersipu..


Tasikmalaya, 06 Juli 2015



Yuli Yuliani

Minggu, 21 Juni 2015

Malu oleh mereka...

Alhamdulillah masih bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan, Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk belajar banyak hal baru dari manapun sumbernya.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya kemarin sore saat saya mengantar adik saya sekalian ngabuburit ke sebuah bengkel motor. Tidak ada yang istimewa dengan sore itu pada awalnya, sampai pada saat saya menunggu selesainya kepentingan adik saya di bengkel itu saya menunggu disebuah kursi dipinggir jalan dan menghadap kejalan raya. Seperti biasanya, saya sedang melihat kesekeliling jalan memperhatikan banyaknya kendaraan yang lewat hilir mudik, tiba-tiba saja lewat didepan mata saya seorang bapak setengah baya tanpa alas kaki mendorong gerobak, pekerjaan bapak itu sudah jelas beliau adalah seorang pencari barang-barang bekas atau istilahnya barbek. Saya terpana dengan pemandangan didepan mata saya itu, beliau melintas dengan mendorong gerobak itu susah payah, beliau juga seorang yang memiliki disabilitas sebelah kakinya lebih panjang sehingga ketika beliau berjalan melangkah kaki kirinya diangkat oleh tangan kirinya selangkah demi selangkah, saya tak membayangkan betapa perih telapak kaki tanpa alas berjalan diatas aspal yang panas, jika itu saya pasti kaki ini sudah melepuh.

Rasanya sedih, rasanya teriris melihat pemandangan itu, tapi jauh dalam diri saya melihatnya merasa bangga pada beliau dan saya merasa malu jika saya melihat kedalam diri saya. Dia, bapak setengah baya tanpa alas kaki itu mampu berjuang hidup dengan usahanya, dengan keringatnya, dan bukan meminta-minta. Dia masih tetap berjuang, berjalan jauh, menghalau teriknya matahari, panasnya aspal jalanan, demi mempertahankan apa yang Allah SWT telah anugerahkan kepadanya yakni kehidupan itu sendiri. Saya tak mengenalnya, sayapun tak tahu bagaimana kehidupan sebenarnya, tapi saya melihat dia lewat didepan saya dan membuat saya merasa terenyuh, Allah SWT menegur hambanya dengan cara apapun, Alhamdulillah.

Saya benar-benar merasa malu, ketika saya masih selalu merasa kekurangan dan tidak bersyukur atas anugerah yang Allah berikan, terkadang hanya cobaan yang saya ingat padahal nikmat dan rejeki yang Allah SWT berikan jauh lebih besar. Saya malu, karena mereka bisa berjuang berbuat sesuatu untuk penghidupannya, sedangkan saya yang katanya seorang sarjana masih belum bisa berbuat apa-apa bahkan hanya untuk diri saya sendiri, saya hanya menunggu sebuah pekerjaan datang, bukan mulai bekerja menciptakan pekerjaan itu, saya malu benar-benar merasa malu... Alhamdulillah Allah SWT masih mengingatkan saya atas hal yang saya lupakan.


Tasikmalaya, 20 Juni 2015...

Sabtu, 06 Juni 2015

New Idol in Men's Single Badminton Player " Jonatan Christie"

Kali ini mau cerita tentang salah satu atlet muda Bulutangkis Indonesia yang dua tahun terakhir ini sedang mencuri perhatian para remaja wanita dan membuat cemburu remaja pria yepp dia adalah Jonatan Christie.

Jonatan Cristie adalah atlet kelahiran September 1997, atlet muda yang baru akan berusia 18 tahun ini menjadi salah satu harapan regenerasi atlet badminton Indonesia di sektor tunggal putra setelah senior-seniornya yaitu Tommy Sugiarto, Dionisyus Hayom Rumbaka, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso. Pada helatan BCA Indonesia Open Super Series Premier pada Juni ini Istora Senayan seolah kedatangan bintang baru, karena biasanya para pendukung terutama kaum hawa sangat mengelu-elukan pebulutangkis asal Korea Selatan Lee Yong Dae.
Karir Jonatan Christie dimulai saat dia bergabung dengan klub Tangkas Jakarta, dan pertama kali ia dikenal justru bukan dari ajang bulutangkis melainkan dari sebuah film biografi Liem Swie King yang berjudul "King" pada tahun 2009 silam. Jo (sapaan akrab Jonatan) menjadi salah satu pemain pendukung dalam film itu bersama para atlet junior Djarum Kudus. Jo berperan sebagai Arya, tokoh antagonis teman satu klub Guntur (Liem Swie King) di Klub Banyu Tumangkas Banyuwangi. Akting jo yang alami membuatnya dikenal masyarakat umum.

Tahun lalu pada ajang Indonesia Open SSP 2014, Legenda hidup bulu tangkis Indonesia yang memiliki Backhand Smash kuat Taufik Hidayat secara simbolis raket estafet kepada Jonatan didepan publik Istora. Sebagai lambang bahwa kini atlet-atlet muda yang akan berjuang membela nama Indonesia di mata dunia lewat Bulutangkis. 

Prestasi Internasional Jo di kelas senior baru dimulai, pada ajang Indonesia open 2015 kali ini jo harus puas sampai pada babak perempat final setelah dikalahkan unggulan ke 3 asal Denmark Jan O Jorgensen lewat 2 game langsung. Namun prestasi ini patut diapresiasi, para pemain yang masuk lewat jalur kualifikasi ini harus bertemu dengan lawan-lawan yang jauh lebih matang dan senior dari babak awal. 

Semoga regenerasi terus berjalan, tidak hanya berhenti sampai disini. Ada potensi besar pada pemain ini, dengan usia yang masih muda, dan wajah yang rupawan mungkin nanti Jo akan menjadi bintang lapangan yang membuat bangga Indonesia. Aamiin.

Jonatan Christie
Sumber : www.google.com


Minggu, 31 Mei 2015

Dimensi 11

Angka 11 adalah sebuah angka yang mengiringi dan Allah takdirkan melekat sejak saya menangis untuk pertama kalinya didunia ini, bukan angka yang tersurat, hanya tersirat saja.
Perjalanan hidup sudah memasuki tahap yang bukan lagi anak-anak, bukan lagi remaja, tapi harus berubah menjadi dewasa. 
Juni dan Dzulhijjah adalah bulan-bulan yang menggambarkan siapa saya, kapan Allah mengijinkan aku menghirup nafas fana dunia, hal yang patut disyukuri meskipun menurut para pemikir manusia yang paling beruntung ialah dia yang tidak pernah dilahirkan tapi menurut saya sebuah kelahiran adala anugerah Allah SWT agar sebuah ruh dan raga yang Dia ciptakan lebih mengenal Dzat penciptanya, lewat hidup ketika ruh jauh dan tak dapat berjumpa dengan penciptanya akan menjadi sebuah kerinduan yang teramat sangat untuk kembali.
Sampai detik ini, belum ada hal yang terbaik yang saya lakukan untuk memupuk kerinduan itu. Belum menjadi manusia yang bisa menjadi manusia seutuhnya, tapi saya sangat bersyukur karena selama petualangan didunia ini Allah memberikan 2 malaikat penjaga yang begitu mempesona, malaikat tanpa sayap yang selalu menuntun tangan ini melewati setiap peringatan rindu dari sang Maha Cinta, yang selalu lembut mengahangatkan hati...

Alhamdulillah...