Kamis, 19 Februari 2015

Idealisme itu mahal...

Setiap orang memiliki keinginan, tujuan dan idealisme masing-masing dalam hidupnya. Terkadang namun suatu idealisme itu menjadi sebuah musuh dalam sebuah pencapaian tujuan, bukan musuh yang menakutkan bagi diri yang memiliki idealisme tapi adalah musuh dalam pencapaian tujuan bagi idealisme lain yang tidak sepaham. Idealisme lambat laun akan terkorosi oleh waktu, akan aus dan bahkan hilang karena dianggap terlalu kaku dan bahkan banyak orang yang menyangkakan bahwa idealisme adalah gengsi, gengsi dalam artian yang tidak baik. Idealisme terhadap apapun sering dimanifestasikan dengan kata naive terhadap kehidupan, padahal idealisme berbeda dengan gengsi dan naive. Karena paksaan dan kenaifan justru membuat idealisme dalam diri manusia terkadang hilang. Sebuah prinsip yang dipegang teguh terkadang goyah oleh keadaan, goyahnya idealisme atau prinsip ini bisa saja memiliki dua ujung, karena tidak melulu idealisme adalah suatu kebenaran.

Idealisme adalah barang langka, yang mungkin saat ini hanya kata yang melengkapi sebuah kepribadian dalam riwayat hidup tapi tanpa ikrar yang jelas. Idealisme kini menjadi hal yang aneh, menjadi hal yang dihindari oleh kebanyakan orang, dianggap mengganggu dan juga tabu. Orang-oranf idealis diidentikan dengan otoriter bahkan bahasa sederhananya adalah menyebalkan. Tapi bagi orang-orang yang memiliki mimpi panjang idealisme adalah sebuah oase indah dimana ia terus menyediakan kesejukan ditengah rasa panas yang menawan. 

Kini idealisme menjadi sangat langka, dan mahal harganya. Karena mereka yang idealis harus berperang melawan waktu, melawan malu, dan melawan rasa takut walaupun idealis juga memerlukan rasa takut agar ia masih dianggap sebagai manusia, yang idealis tentunya.

Senin, 16 Februari 2015

Mendengar Suara Yang Tenggelam

Judul postingan kali ini adalah "Mendengar Suara Yang Tenggelam" , mungkin akan langsung terbayang lagi berenang di pantai tapi sambil gak bisa renang eh kelelep dan minta tolong tapi gak ada yang dengerin. Tapi yakin sih pada ngerti maksud dari judul postingan ini. Ini adalah cerita dimana saya punya pengalaman dengan suara yang tenggelam ini.
Sebagai seseorang yang cenderung lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara saya memang sangat jarang bercerita tentang apa sebenarnya yang ada dalam pikiran dan hati saya, kebanyakan orang yang saya kenal dan mejadi teman baik saya adalah orang-orang yang speak up dan selalu aktif bercerita. Menjadi seorang listener itu enak sebenarnya, karena kita bisa dapet banyak sekali pengalaman dan cerita baru walaupun kita belum pernah mengalami apa yang diceritakan seseorang kepada kita. Enaknya kita bisa tahu banyak hal, bisa tahu cara orang berpikir, cara orang mengatasi masalahnya masing-masing dari hanya mendengarkan cerita mereka. Cerita mereka yang pernah bercerita kepada saya seperti buku dongeng yang bisa bercerita sendiri, setiap babak, setiap peran, dan karakter bisa kita dapatkan sekaligus. Tapi menjadi seorang listener juga ada hal yang kurang enaknya, gak enaknya adalah karena kita terlalu terbiasa mendengarkan, kita jadi takut orang lain tidak memiliki simpati yang sama seperti yang kita berikan ketika kita mendengarkan orang lain, dan juga jarang orang yang bisa mau mendengarkan cerita si pendengar ini, bukan meng- underestimate- kan orang lain, tapi saya terkadang merasa bahwa ketika saya bercerita jarang yang bisa mendengarkan saya dengan baik karena kebanyakan dari mereka selalu mengalihkan kepada pembicaraan pribadi mereka sendiri ketika saya mulai mau bercerita. Kadang gak enak sih, berasa kalau misal mereka ngbrol selalu saya dengarkan dan berikan respon saya dan selalu fokus pada apa yang mereka ceritakan tapi ketika saya ingin balik bercerita terkadang tidak sama, saya tidak mendapat respon yang saya harapkan. 
Menjadi seorang listener itu rumit, rumit karena ekspektasi diri untuk didengarkan ketika mereka berbicara terlalu tinggi, mereka berharap respon orang lain yang mendengarkan akan minimal sama dengan apa yang mereka berikan kepada orang lain yang sedang bercerita. Hal ini saya kira karena apabila seorang listener itu mau bercerita kepada orang lain itu berarti apa yang ada dalam hatinya atau yang ia ceritakan itu merupakan hal yang sangat penting dan tidak tertahankan karena hal ini akan sangat jarang terjadi, jadi wajar saja ketika orang-orang yang tidk terlalu banyak bicara ini mengharapkan respon yang baik dari siapapun itu pendengarnya. Karena mereka hanya akan bercerita kepada orang yang mereka anggap nyaman untuk bicara dan percayai.
Selama ini saya pribadi belum mendapatkan seorang pendengar yang baik dan mampu mengerti apa yang saya rasakan dan pikirkan selain orang tua saya, kebanyakan hanya mendengar sambil lalu dan akhirnya lupa. Tapi pernah ada satu orang yang mampu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut saya disaat semua orang tidak mendengar dan tidak memberikan respon apapun atas kalimat yang saya sampaikan. Saya cukup terkejut dengan hal itu, karena hanya orang itu yang mampu menangkap suara saya yang tenggelam diantara yang lain yang bahkan teman baik saya pun waktu itu tidak dapat menjangkau suara saya.
Ada dua hal yang menjadi mungkin, pertama : dia adalah seorang listener juga atau dia adalah kombinasi dari speaker dan listener. Apapun itu saya ucapkan terimakasih kepada dia yang waktu itu menjangkau suara saya yang tenggelam jauh didasar. Terimakasih mau mendengar si pendengar ini. Jadi itulah yang ingin saya sampaikan bahwa menjadi seorang pendengar itu antara menyenangkan dan menyebalkan..


Yuli Yuliani

Jumat, 13 Februari 2015

Mereka yang selalu menginspirasi : Hendra Setiawan dan Liliyana Natsir

Semua isi blog ini berisi tentang rindu, rasa rindu saya terhadap orang-orang yang membuat saya rindu. Kali ini saya akan mengungkapkan rasa rindu saya pada dua atlet Bulutangkis favorit saya, dua idola saya yang pertama kali saya kenal lewat ajang kejuaraan Bulutangkis Indonesia Open Badminton Championship pada tahun 2005 (waktu itu level Indonesia Open masih championship), dua atlet itu adalah Hendra Setiawan dan Liliyana Natsir.
Liliyana Natsir
sumber : www.pbdjarum.org
Hendra Setiawan
Sumber : www.badimtonindonesia.org
Liliyana Natsir adalah wanita asal Manado yang lahir pada 09 September 1985, sedangkan Hendra Setiawan adalah Pria asal Pemalang yang lahir pada tanggal 25 Agustus 1984. Pertama kali saya melihat penampilan mereka pada ajang IO Championship 2005 mereka berpasangan dengan pasangan terdahuluny yaitu Liliyana Natsir berpasangan di nomor ganda campuran (XD) dengan Nova Widianto sedangkan Hendra Setiawan waktu itu berpasangan dengan Markis Kido dinomor ganda putra (MD). Saat itu liliyana natsir berpasangan dengan Nova menggantikan Vita Marissa yang sedang mengalami cedera namun ternyata pasangan baru ini malah dapat mencetak prestasi yang sangat bagus, bahkan karir pasangan Liliyana Natsir dan Nova Widianto mampu menghasilkan banyak sekali gelar dan mereka pernah menjadi pasangan Ranking 1 BWF. Kesan pertama yang saya tangkap dari seorang liliyana natsir (butet) ini adalah wanita tomboy yang sangat tangguh, permainan didepan net nya serta cara dia melakukan servis selalu membuat saya terkesima dan kagum. Kekuatan pukulannya memang tidak sekuat atlet korea yang saya sukai juga yaitu Lee Hyo Jung, tapi permainan net, drop shoot, sampai gerakan-gerakan tipuan yang dia buat dilapangan sangat memukau. Tidak ada pertandingan liliyana natsir yang tidak membuat saya menahan nafas dan sangat deg-degan, semuanya hebat.
Berbeda dengan kesan pertama yang saya rasakan ketika saya melihat Hendra Setiawan, pertama kali saya sebenarnya agak sebel melihat pasangan Hendra dan Kido ini, hal ini karena mereka mengalahkan pasangan ganda putra favorit saya waktu itu yaitu Chandra Wijaya dan Sigit Budiarto di partai final. Padahal saya waktu itu mendukung pasangan chandra/Sigit habis-habisan, pikiran saya waktu dulu "gila, pasangan masih muda aja ngalahin chandra/sigit, paling juga keberuntungan". asli dulu itu sebel banget, tapi pas lihat kejuaraan Thomas Uber dan mereka menjadi salah satu ganda utama saya mulai suka, sebenernya sih tahun 2005 itu juga udah kagum tapi karena mereka belum saya kenal akhirnya baru mulai suka banget sama pasangan Hendra/Kido itu setelah ajang IO Championship. Seiring perjalanan karir mereka, mereka berkembang pesat menjadi pasangan ganda putra yang paling ditakuti didunia, musuh bebuyutan mereka adalah pasangan ganda putra dari China yaitu Cai Yun/ Fu Hai Feng dan pasangan ganda Korea Selatan yaitu Jung Jae Sung/ Lee Yong Dae. Pasangan Hendra/Kido ini menyabet banyak gelar mulai dari turnamen Championship, Superseries, kejuaraan dunia, dan puncak kejayaan pasangan ini adalah saat mereka berhasil menyabet medali emas ganda putra Olimpiade Beijing tahun 2008. Pada tahun 2010, pasangan ini mempersembahkan kembali medali emas bagi Indonesia pada event multicabang Asian Games di Guangzhou China.

Kedua pasangan Liliyana/Nova dan Hendra/Kido, mengalami naik turun prestasi. Hingga pada saat yang menyedihkan adalah pada saat Hendra/Kido memutuskan untuk keluar pelatnas dan menjadi pemain profesional dan usia Nova Widianto yang tidak lagi muda membuat liliyana akhirnya dicarikan pasangan baru, pasangan yang pernah dicoba untuk diduetkan dengan liliyana antara lain adalah Devin, M Rijal, dan Tontowi ahmad. Hingga akhirnya diputuskan untuk memasangkan Liliyana natsir dengan Tontowi ahmad. Hendra Setiawan juga akhirnya dipanggil kembali oleh pelatnas dan dipasangkan dengan Mohammad Ahsan yang sebelumnya berpasangan dengan Bona Septano yang merupakan adik markis kido. 

Seperti kejayaan yang berulang, mereka kembali bersinar dengan pasangan baru mereka masing-masing. Ada rekor-rekor baru yang terpecahkan oleh mereka, diantaranya adalah atlet wanita yang paling banyak mendapatkan gelar kejuaraan dunia. Bahkan pasangan Hendra Setiawan/ Moh. Ahsan sempat menempati ranking pertama dunia BWF. Mereka berdua mengukir prestasi mulai dari juara dunia juara All England, dan Asian Games.





Saya sangat bangga kepada mereka berdua, jujur saja dulu bahkan sempat membuat cerita tentang mereka berdua. Dua playmaker handal yang sangat hebat, dua pemain dunia yang dikagumi, mereka adalah orang-orang yang mampu membuat Indonesia tersenyum dan disegani.

Saya sangat rindu kalian berdua, Liliyana Natsir dan Hendra Setiawan akan selalu menjadi Idola saya. Saya sangat berharap kalian akan selalu berprestasi, dan semakin baik. Tapi walaupun kalian tidak seperti masa kejayaan kalian lagi saya akan tetap menjadi fans kalian berdua. Saya harap tahun ini saya bisa menonton langsung Indonesia Open Premier Super Series.. Hope the best for you two :)


Yuli Yuliani

Menutup Kasus dan Menutup Hati

Lagi-lagi akan menceritakan pengalaman atau mungkin perasaan dalam blog ini, biar saja yang katanya diam-diam ini malah terpublikasi di halaman blog yang dapat diakses bebas oleh siapapun.
Bagaimana perasaan John Watson dan Sherlock Holmes ketika memecahkan sebuah kasus ya? Apakah ada rasa senang? puas? atau bangga?, jadi penasaran bagaimana Sir Arthur Conan Doyle itu membuat kasus serta memecahkan kasus-kasus itu sendirian dalam bukunya, hingga tokoh rekaannya itu begitu legendaris sebagai tokoh detektif handal yang memiliki kemampuan deduksi yang luar biasa dan juga tidak lupa dengan peran pendukung utama yaitu dr. John Watson yang menjadi navigator dan rekan bagi Sherlock.
Terlalu banyak membaca cerita dan film detektif membuat saya pernah ingin menjadi detektif juga, tapi baru-baru ini saya memang telah memecahkan suatu kasus, kasus yang tidak saya kenal dan orang-orang yang tidak saya kenal. Dari hasil pencarian itu akhirnya kasus ini selesai juga, klasik sih ini tentang hati..
Dengan berakhirnya kasus ini, saya jadi berpikir bahwa maksud saya dalam cerita ini sudah selesai, saya harus menutup kasus ini sekaligus menutup klien saya yaitu hati saya sendiri. Ini bukan sebuah kebetulan, ini memang jawaban dari apa yang saya cari dan apa yang saya tanyakan...
Mewakili tokoh favorit saya yaitu dr. John Watson (anti mainstream) saya menyatakan kasus ini saya tutup, saya ingin kembali pada hari tanpa kasus yang sama, tanpa orang-orang yang sama. Saya ingin memulai semua cerita baru dengan orang dan hal yang baru..
Semoga semua orang juga bisa segera mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan yang tidak terucap dalam hati ya..

Hatur Nuhun,
Yuli Yuliani

Senin, 09 Februari 2015

Sore yang mengagetkan -___-

Ternyata gini ya perasaan orang yang misalkan ketahuan bersalah, kalo ketemu orangnya pasti merasa ketauan atau salah tingkah. Beberapa waktu lalu, saya pernah memposting masalah cinta pertama yang saya alami di blog ini. Tanpa diduga kemarin sore eh malah kang etemu sama orangnya. Karena seperti saya bilang kalau kami berdua entah sejak kapan mulai menjadi seperti saling mengenal, akhirnya komunikasi kami benar-benar canggung, dan tiba-tiba takut kalau semua curhatan saya kemarin ketahuan dan berusaha untuk menghapus postingan itu. Tapi saya pikir lagi, untuk apa dihapus toh tidak ada salahnya menyimpan kenangan, saya justru mengenang masa pertemanan saya dengan dia :) jadi saya putuskan untuk tidak menghapusnya...
Itu masa lalu, sudah tertinggal sejak lama. Sekarang sudah tidak ada debaran itu dalam hati, tapi tidak ada salahnya jika aku menyimpan kenangan itu semua bukan? a saya sih ingin kita berteman lagi seperti dahulu..hehe

Rabu, 04 Februari 2015

Pilih mana, Meng- Indonesiakan global atau Meng- Globalkan Indonesia ? ?

Dengan pertanyaan seperti diatas, anda akan memilih yang mana? dua kata itu mungkin terlihat seperti sama dan pada praktiknya mungkin akan terlihat mirip, jadi dimana bedanya? mungkin akan disebutkan demikian. Meng- Globalkan Indonesia atau Meng- Indonesiakan global, jika dilihat dari banyaknya kata " Era Globalisasi" yang didengungkan dimana-mana maka saya pikir lebih banyak yang berpikir untuk mengglobalkan Indonesia, tujuannya sama agar Indonesia dapat bersaing didunia global. Salah satu ciri dari fenomena mengglobalkan Indonesia adalah dengan banyaknya penggunaan bahasa Internasional, bahkan anak TK pun sudah diajarkan, sekarang bahkan marak orangtua yang lebih mengajarkan anaknya berbahasa Asing ketimbang menggunakan bahasa Indonesia. Kadang saya takut apakah bahasa Indonesia akan punah? , saya tidak ingin Indonesia sampai tidak memiliki kebanggan terhadap Bahasa Ibu nya sendiri, saya ingin Indonesia memiliki jati diri yang khas, bukan memakai bahasa milik negara lain. 
Saya tidak berkata bahwa saya tidak setuju dengan belajar bahasa Asing, belajar bahasa Asing sangat baik bagi kita untuk komunikasi dan saling mengenal dengan orang lain dengan baik tapi saya hanya berkata bahwa saya tidak ingin Bahasa Indonesia hilang. Saya ingin bahasa Asing digunakan ketika percakapan dengan orang asing di negaranya atau dalam hubungan multinasional, yang saya inginkan adalah Bahasa Indonesia menjadi bahasa Ibu di negerinya sendiri, jadi sepertinya akan sangat membanggakan bagi kita jika sendainya warga Asing yang bekerja di Indonesia wajib menggunakan bahasa Indonesia seperti yang diberlakukan oleh negara asing terhadap pekerja Indonesia atau adanya syarat TOEFL? mungkin nanti kita harus memiliki test kemampuan bahasa Indonesia semacam itu sebagai syarat bagi pekerja asing yang akan bekerja di Indonesia?
Saya secara pribadi lebih akan memilik untuk meng- Indonesiakan global ketimbang meng- Globalkan Indonesia, tidak usah takut akan tertinggal jika kita menjunjung tinggi bahasa negeri sendiri, jangan takut dan malu kalau tidak pandai menggunakan bahasa Inggris, karena kita bisa lihat negara Cina, Korea, atau Jepang. Mereka negara maju, negara yang berpengaruh terhadap dunia, tapi lihat apakah semua warganya pandai berbahasa asing? apakah kemampuan bahasa Asing anak SMA nya sama dengan kemampuan asing anak SMA kita? , banyak orang yang pernah datang ke negara Jepang bilang tidak. Pada papan petunjuk jalan mereka menggunakan 2 bahasa untuk petunjuk, bukan hanya menggunakan bahasa asing saja. Menjadi maju atau mengglobal bukan berarti kita harus mengganti semua menjadi hal asing juga, tapi kenapa tidak kita memperkenalkan bahasa kita kepada Internasional, rupiah menjadi uang yang berharga di Internasional seperti layaknya yen jepang, dan yuan china yang kini mampu menembus dominasi Dollar AS dan Euro Uni Eropa.

Mengglobal bukan berarti meninggalkan lokal dan tradisi, ataupun jatidiri sendiri. Jati diri bangsa adalah kekuatan yang untuk menjadi maju. Maju itu bukan semuanya serba asing, serba modern, serba bukan lokal, maju itu adalah ketika hal tradisional kita, hal jatidiri kita mampu menjadi harum didunia global...

Jadi, mau Mengglobalkan Indonesia atau Meng- Indonesiakan global ? itu tergantung kita, tergantung visi kita, tergantung cara kita. Mau membuat Indonesia seperti Internasional atau negara lain, atau mau memperkenalkan Indonesia dengan kekuatannya sendiri kepada Internasional??


Senin, 02 Februari 2015

Soal Cinta Pertama

Kali ini ingin rasanya membahas tentang cinta pertama atau mungkin cinta monyet pertama yang pernah saya alami. Hmm kalau diingat ingat sih lupa kapan tepatnya itu terjadi tapi yang pasti saya tahu untuk siapa rasa suka pertama saya itu..
Kata orang (inget kata orang, bukan kata saya) cinta pertama itu susah dilupakan. Ketika kita sudah tidak pernah bertemu lagi entah sekian lamanya, lalu mengalami jatuh cinta lagi tapi kalau kita ketemu lagi rasanya akan lain.. Seperti ada hal yang masih mengganjal, indah tapi terlupa, terlupa tapi ternyata masih terkenang dalam hati yang tersembunyi.
Kalau saya, hal yang saya ingat setiap kali saya melihat seseorang itu adalah masa kecil saya, setiap saya melihat "dia" saya selalu menjadi rindu, rindu akan masa anak-anak saya dahulu, rindu pada sosok saya waktu itu. Karena sosok yang menjadi cinta monyet pertama saya adalah dia yang menjadi teman saya sejak lama, dia yang selalu satu sekolah dengan saya, dia yang tidak akan saya lanjutkan deskripsinya, karena saya takut ada orang yang mengenal saya dan mengenal dia juga melihat tulisan ini dan akhirnya tahu. Lucu, semua tentang dia adalah hal yang saya gabungan dari hal yang saya tidak suka dan hal yang saya sukai. Lucu, karena kita memiliki nama panggilan dilingkungan sekitar kita yang akhirnya melekat pada nama kita masing-masing, lucu karena nama itu perlahan hilang saat kita masuk smp dan kita berdua sama-sama bercerita kepada Ibu kita bahwa tidak ada yang memanggil kami dengan nama panggilan yang biasa kita dengar dan kita bercerita itu tanpa kita rencanakan sampai Ibu kita berdua saling berbicara dan mereka tertawa karena cerita kita bisa sama. Lucu karena kita pernah mendapat nilai yang sama saat lomba pelajaran bahasa Arab ditempat ngaji kita sampai kita harus membagi dua hadiah yang seharusnya didapat salah satu diantara kita. Lucu saat kita sepulang sekolah Tk bermain bersama, makan bersama, tertawa dan main badminton dengan yang lainnya..
Menyesal karena kenapa sekarang aku dan "dia" tidak seperti dulu lagi, tidak menjadi teman baik lagi. Menyesal kenapa kita harus menjadi seperti orang lain yang sama sekali tidak mengenal, menyesal karena kenapa aku harus bersikap selalu tidak ramah kepadamu disaat aku gugup.
Aku rindu saat-saat itu, saat masa kecil dan pertemanan denganmu. Saat itu aku masih ingat kata-katamu "mudah-mudahan kita sekelas ya" , lalu aku mengamininya dalam hati. Tapi kita tidak sekelas, masih ingat hari-hari itu, hari dimana kita berangkat sekolah bersama, naik angkot. Lalu pas jam pulang sekolah, kita juga pulang bersama saling menunggu didepan gerbang sekolah. Tapi lama-lama semuanya tidak sama lagi, aku mulai kehilangan diriku yang sebenarnya, aku mejadi seseorang yang sangat pendiam dan pasif, dan kamu pun berubah menjadi seseorang yang lebih aktif. Kita seolah bertukar, aku yang baru dan kamu yang baru.
Cinta pertamaku adalah segala sesuatu yang mengingatkanku akan masa lalu, masa senang dan sedih, masa haru dan kebahagiaan, kebanggaan dan pertemanan. Cinta pertamaku adalah segala mimpi, segala kenangan indah tentang persahabatan, tentang sebuah rasa persahabatan yang tidak terlihat, tentang sebuah pertemanan tanpa syarat. Saling menjenguk ketika sakit...

Kita begitu dekat, bahkan aku tak perlu mencarimu lewat mimpi tapi jarak terjauh antara kita adalah ketika kita berdua saling berhadapan.
Aku bilang tabu untuk berkata, tapi sepertinya aku terlalu banyak bercerita diruang publik yang bahkan dapat dilihat siapapun, ini mungkin yang namanya percuma.

Inilah kesan tentang cinta pertamaku, yang mengingatkanku pada semangat masa laluku. Yang mengingatkanku sekuat dan seceria apa diriku dahulu, Aku rindu.