Kamis, 19 Mei 2016

Lagi-lagi Judgement dan Labelling

Kembali saya entah ini berkeluh kesah atau apa, yang pasti saya menceritakan apa yang saya rasa, lihat, dan dengar. Sebelumnya saya pernah dua kali menyinggung topik judgement dan labelling ini pada halaman cerita saya ini tetapi dua-duanya memiliki latar cerita yang berbeda.

Sebenarnya apa itu labelling?, saya pertama kali mendengar istilah ini adalah pada saat mata pelajaran sosiologi pada saat saya SMA dulu. Edwin Lemert (1950)  memberikan perbedaan mengenai konsep teori labeling ini, yaitu primary deviance dan secondary deviance. Primary deviance ditujukan kepada perbuatan penyimpangan tingkah laku awal. Kelanjutan dari penyimpangan ini berkaitan dengan reorganisasi psikologis dari pengalaman seseorang karena cap yang dia terima dari perbuatan yang telah dilakukan. Ketika label negatif diterapkan begitu umum dan begitu kuat sehingga menjadi bagian dari identitas yang individual, ini yang kemudian diistilahkan Lemert penyimpangan sekunder. Individu yang telah mendapatkan cap tersebut sulit melepaskan diri dari cap yang dimaksud dan cenderung untuk bertingkah laku sesuai dengan label yang diberikan (mengidentifikasi dirinya sebagai pelaku penyimpangan/penjahat).

Dari teori labelling diatas menjelaskan bahwa sebenarnya labelling pada awalnya dimaksudkan sebagai sanksi sosial bagi pelaku penyimpangan sebagai kontrol sosial dan efek jera, tetapi sejalan dengan waktu lebelling ini telah menjadi kontrol sosial yang justru menimbulkan penyimpangan baru sesuai dengan apa yang disematkan orang kepadanya sebagai tindak pembelaan dan pertahanan diri. Hal ini disebabkan karena kontrol sosial yang tidak berimbang, seperti hanya prasangka seseorang lalu disematkan kepada orang lain dan akhirnya menyebabkan seseorang itu malah membuat tindakan penyimpangan. 

Kehidupan sosial masyarakat memang tidak pernah lepas dari hal-hal alamiah dan buatan manusia seperti diferensiasi, stratifikasi, labelling, dan segala macam tingkatan dan pembeda diantara masyarakat itu sendiri. Saya selalu tidak paham dengan konsep-konsep diatas, kenapa masyarakat harus melakukan kotak-kotak antar manusia hanya berdasarkan hal-hal yang tidak perlu. Kaum elite, kaum cendekiawan, kaum agamis, kaum marginal, dan sebagai macamnya. Pantas saja saya selalu mendapat nilai kurang baik pada mata pelajaran sosiologi yang membahas tentang stratifikasi, diferensiasi sosial karena saya memang benar-benat tidak mengerti dan kurang mendukung juga. Bagi saya kehidupan masyarakat harus didasarkan pada norma yang berlaku pada dasarnya norma agama dan ke Tuhan-an karena sejatinya konsep norma agama adalah yang lahir bukan dari dalam diri kita melainkan dibuat oleh Tuhan untuk mengatur kehidupan kita, dan saya tidak menemukan adanya konsep-konsep stratifikasi, labelling, dan teman-temannya disana. Bukankah yang membedakan kita dimata Tuhan hanyalah keimanan kita? dan masalah keimanan itupun tidak dapat kita nilai oleh diri kita, karena kita tidak memiliki otoritas dalam melakukan penilaian terhadap siapapun.
Jadi jika ada orang yang dengan sengaja menjatuhkan penilaian tidak berdasar, hanya berdasar pada praduga apakah dia lebih tahu daripada Dzat yang menciptakan manusia? sombong sekali. Semoga masalah-masalah nonsense seperti ini tidak akan terjadi pada kita semua karena susah sekali bagi saya untuk meredam rasa tidak suka saya terhadap konsep-konsep ini.

Rabu, 18 Mei 2016

Devil side of me

It has been awhile since the last time I post here, it because I have nothing to be shared with anyone but today it is..

I always say that "If you wanna be respected then respect", I repeat it everytime and I really hate judgement in the end. I will write about my feeling again the other side of me, every people surely has both angel and devil's side in our self. We couldn't be always be in the light because we have the dark side and it can come up suddenly without even warn us.
Evil side of me are : my anger last for long, even I wont but it really happen..

Selasa, 26 April 2016

Berpikir ?

Berpikirlah sebelum bertindak, itu kata bijak ketika kita gegabah dalam mengambil suatu keputusan, itulah kata yang akan kita dengar saat keputusan atau tindakan yang kita lakukan mengalami kegagalan, atau kesalah dan lain-lainnya..
Tapi terkadang, ketika kita berpikir terlalu lama ternyata kita bisa banyak kehilangan iya benar sekali kehilangan kesempatan untuk mencoba sesuatu perubahan dalam kehidupan kita. Ini pengalaman pribadi karena saya adalah seorang yang senang sekali berpikir, menganalisis, mangobservasi sesuatu dan pada satu titik saya merasa hidup saya terlalu penuh dengan pemikiran mulai dari hal sepele sampai hal yang mungkin memang jika saya lakukan dengan nyata akan menjadi sesuatu yang berguna. Saya sedang merasa saat ini saya dalam keadaan kehilangan dan melewatkan banyak momen yang penting dalam hidup saya karena saya terlalu lama berpikir, ada semacam rasa takut untuk keluar dari pikiran saya, kadang saya menunda setiap tindakan yang akan saya lakukan karena lama sekali saya berpikir tentang suatu hal, bahkan seminggu belakangan ini saking saya terlalu sibuk berpikir saya bahkan tidak sempat untuk menangis padahal saya sedang dalam keadaan ingin menangis.
Berpikir dan berpikir, saya bukan seorang filsuf, bukan juga seorang cendekiawan tapi kenapa saya memiliki hobi seperti ini? ketika saya ingin menulis, semuanya hilang ketika saya mulai berpikir, semua kata-kata dan semua gambaran cerita yang ingin saya tulis tiba-tiba menguap tanpa jejak dan hanya menyisakan kertas kosong tanpa setitik tulisanpun. Selain masalah itu, banyak lagi hal-hal terlewatkan dalam hidup saya ini karena hobi saya yang satu ini, bahkan sampai ke urusan personal saya.. haha

Berpikir, berpikir, dan berpikir..
Think and then act, but sometimes don't take too long to think because you'll pass some precious moment in your life...
Sometimes you just need to grab the chance in front of you and take the risk to challenge your self, to find your self, and in the end you'll see how beautiful your life can be :), and how brave you are ...

Rabu, 06 April 2016

Puzzle Berserakan

Haaaiii....

Mau cerita ini, efek baca edensor nya andrea hirata jadi sering berpikir bahwa apa yang terjadi kepada kita dimasa lalu atau apapun yang pernah membekas dan disimpan dalam hati dan pikiran dikemudian hari akan kembali diputar dan terjadi secara nyata dalam kehidupan kita. Seperti puzzle dan mozaik yang berserakan yang setiap waktu tanpa kita sadari berkumpul kembali satu demi satu. Jika puzzle itu adalah sebuah mimpi, sebuah kesalahan, sebuah kebaikan, dan unsur apapun yang membangunnya menjadi satu kesatuan "Aku" yang lengkap maka saya pikir beberapa puzzle sudah mulai ditemukan dan kembali kepada tempatnya. Beberapa tentang mimpi, bahkan sampai kesalahan masa lalu..

It shocked me to be honest, but it seem so fun when I throw my memories back to the past about why and anything...

Minggu, 20 Maret 2016

Ayah yang Kupanggil Bapak

Ayah yang Kupanggil Bapak

Yuli Yuliani



Untuk Ayah yang kupanggil Bapak, betapa kata-katamu yang singkat tak pernah luput dari membuatku terharu...
Untuk Ayah yang kupanggil Bapak, Aku lagi-lagi kau buat tercengang dengan apa yang kau ajarkan
Kau, kata-katamu yang jarang, tapi tawamu selalu ada dalam setiap sesi pembicaraan
Untuk Ayah yang kusebut Bapak, kadang aku bertanya seperti apa hatimu, sedalam apa pikiranmu untuk kami yang selalu ada bersamamu..
Karena kamu ayah, selalu menjadikan kami urutan pertama dalam apapun yang kau miliki..
Karena kamu ayah, selalu memberikan kami curahan kasih yang tak pernah padam tanpa harus berkata banyak..
Untuk ayahku yang selalu meledekku, aku yang jauh disini sangat rindu..
Aku tak pernah lupa nasehatmu sebelum aku pergi ke kota dimana aku berpijak kini..
dan Ayah, aku selalu menangis ketika mengingatnya.. kapanpun itu dalam setiap waktu..
Kau berkata, " Jaga diri baik-baik disana, hidup itu harus seadanya sederhana, harus bisa menahan diri, harus tahu mana yang penting dan mana yang bukan. Bapak juga bukannya tidak pernah punya keinginan pribadi untuk membeli ini dan itu tapi bapak melihat kalian masih perlu biaya yang besar, masih panjang perjalanan, jika kita mengikuti ego dan nafsu kita hidup itu tidak akan pernah merasa cukup, tidak akan pernah sampai pada tujuannya" ...
Mungkin setiap ayah akan berkata begitu, tapi bagi setiap anakpun kata-kata bisa ditanggapi beragam, dan saya memilih untuk merasa sangat bangga ternyata panjang sekali pikiran Bapak untuk kami semua...

Untukmu Ayah yang kupanggil Bapak, semoga Allah selalu menjagamu..
Merahmati setiap curahan cinta yang kau berikan untuk kami dan orang-orang yang kau sayangi..
Untukmu Ayah yang ku, aku disini ingin berkata bahwa betapa aku bangga dan mencintai sosokmu, menghormatimu...
Untukmu Ayah yang kupanggil Bapak, Engkau adalah pemberian yang begitu aku syukuri...
 Untuk Bapakku... Sebentar lagi selamat ulang tahun..
Untuk Bapakku, yang bahkan tidak tahu hari lahirnya aku ingin engkau selalu sehat... :)
 
 

Kamis, 18 Februari 2016

Lupa Dimana

Rutinitas setiap hari yang saya jalani sama, melewati rute yang sama dan waktu yang hampir sama, dikelilingi keterburu-buruan mengejar waktu serta tak ayal padatnya kota ini membuat muak. Rasanya tak ada ruang untuk bernafas, menikmati keheningan hujan, kesejukan angin yang membelai lembut wajah, atau lebih tepatnya tidak ada tempat yang bisa saya gunakan sebagai ruang refleksi diri. Dulu saat dirumah, saya masih bisa pergi ketempat yang membuat saya tenang, atau bahkan hanya duduk dibelakang rumah yang menghadap kolam ikan, gunung kecil, sungai, dan sawah setidaknya cukup untuk membuat nafas saya kembali terbuka...
Kemarin seperti biasnya setelah pulang turun di stasiun yang biasanya lalu harus naik angkot lagi untuk sampai ketempat dimana saya tinggal, tapi sore itu rasanya malas menaiki angkot lantas saya berjalan dan berjalan sampai pada jarak yang lumayan jauh, sedikit tenang pikir saya waktu itu

Rabu, 10 Februari 2016

Faith ...

Terkadang saya mempertanyakan dalam heningnya setiap pertemuan dengan-Nya bagaimana rupanya takdir saya? bagaimana catatan takdir dan perjanjian yang dulu saya buat dengan Yang Maha Cinta, tentu dalam setiap detik saya berpikir misteri terbesar dalam hidup ini adalah hidup ini sendiri. Bagaimana akhir cerita yang akan saya jalani, bagaimana alur yang akan saya lewati semuanya sering disebut takdir dan nasib.

Dalam sebuah buku karya penulis Tere Liye- Aku, Kau, dan Sepucuk Angpao merah disana saya menemukan sebuah kalimat " Jangan mengintervensi alur yang Tuhan siapkan, biar saja semua berjalan sesuai dengan alurnya" intinya seperti itu karena saya tidak hafal kutipan cerita tersebut, saya berpikir benar itu, karena biarkan semuanya berjalan sesuai cerita sebenarnya tapi disisi lain saya juga berpikir, darimana kita tahu bahwa tindakan kita menngintervensi alur yang Tuhan siapkan? bagaimana jika tindakan kita itu memang alur yang Tuhan siapkan? sedangkan kehendak hati adalah seijin Allah SWT. 

Terlalu banyak memikirkan hal-hal membuat saya terkadang menjadi terlalu pasrah, tapi disisi lain saya merasa takut. Jujur saja, saat ini saya sedang berpikir tentang siapa yang akan menjadi imam dalam keluarga kecil yang kelak akan saya bangun? kami bangun bersama lebih tepatnya. Sebelum ini, saya terlalu santai dengan hal-hal semacam jodoh dan sebagainya itu karena saya berpikir saya belum selesai dengan diri saya sendiri, belum menjadi apa-apa untuk kedua malaikat saya. Tapi seiring berjalannya waktu, ada ruang dalam benak dan hati saya tentang masalah pernikahan pada ujungnya, ditambah pertanyaan yang sudah datang dari banyak orang, beberapa teman pun sudah memiliki biduk rumah tangganya sendiri.

Bukannya saya terlalu terpengaruh dengan orang lain, tapi banyak hal yang seharusnya saya lengkapi memang dalam kehidupan saya. Masalah waktu, masalah siapa, masalah bagaimana itu sekarang sering terselip dalam agenda rutin pikiran saya, seolah virus tak diundang yang menyerang beberapa sel syaraf diotak yang mempengaruhi mood dan perasaan saya. Sekarang mendorong saya untuk bercerita disini, memang aneh takdir itu..