Minggu, 20 Agustus 2017

Kamu yang Tidak Bernama

Hari ini, tanggal 22 Agustus 2017 semenjak bangun dipagi hari aku memulai hari dengan rasa bingung, rasa sedih, seolah tidak menapakkan kaki diatas tanah. Aku berpikir keras kenapa hatiku bisa terasa seaneh ini, sehampa ini, setidak menyenangkan ini, sebenarnya apa yang aku pikirkan? Kenapa rasanya sedikit sesak didada, sakit sekali...
Seketika aku mengingatmu, aku memikirkanmu tapi yang membuatku semakin bingung adalah siapa kamu sebenarnya? Aku sibuk sekali memikirkan bagaimana hidupmu, untuk pertama kalinya aku memikirkan masa depan orang lain yang bahkan tidak aku ketahui siapa orangnya. Untuk pertama kalinya aku merasa tergoyahkan oleh pemikiran yang begitu memenuhi pikiran dan hati seperti gas helium yang menyusupi rongga dada, parau..
Kamu, yang tak bernama apakah kamu juga memikirkan apa yang terjadi kepadaku? Memikirkan bagaimana kehidupanku? Memikirkan bagimana nantinya kita akan bertemu..
Kamu, yang tidak bernama. Mungkin nanti aku akan menceritakan semua kisahku padamu, lewat sebuah rasa yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya..
Kamu, yang tidak bernama. Aku sungguh mengkhawatirkanmu, semoga kamu baik-baik saja..
Dalam langkah gontai, lalu terduduk lesu memandang tulisan ini aku hanya memikirkanmu, memikirkan bagaimana rupamu, bagaimana caramu akan mengenalku nanti, dan bagaimana caranya aku tahu namamu...



Jakarta, 21 Agustus 2017
Stasiun Pasar Senen,


YULI YULIANI

Kamis, 06 Juli 2017

Perempuan dalam Cermin

Berkelebat dibelakangku..
Dalam raga yang menyertaiku, aku temukan dia yang diam didalam kulit..
Menyeruah membuncah didada, ia berteriak dengan hatinya
Seperti gelombang yang tiba-tiba datang, tanganpun tak mampu menghalaunya..
Sinar matahari membuat murkanya meledak, menasihati air karena hilang..
Kamu, perempan bisu yang metatapku nanar dan sayu
Kenapa rupamu tak mau hilang, kau menyeretku kedalam tatapan yang menyentakanku..
Aku tenggelam dimatamu yang merah..
Aku tak bisa pulang, aku ingin keluar..
Kau menawanku dengan kejam, menarikku pada nestapamu
Kamu, perempuan dalam cermin yang memecahkan gong kesabaran, pergilah.. biar aku menjadi diriku
Biarkan aku melangkah maju menghadapi rasa takutku
Kembalikan gong yang kau curi...
Wahai kamu, perempuan dalam cermin.. bolehkah aku pecahkan saja sosokmu didepanku.
Perempuan dalam cermin, pergilah aku ingin sendiri..

Sabtu, 03 Juni 2017

Mundur

Dalam buaian malam yang panjang, dimana sayap-sayap itu disimpan didalam lemari kaca..
Sinarnya membutakan mata, menertawakan gelap
Jika saja dia menyandingkan keduanya dalam satu masa, maka apakah temaram menjadi persimpangan antara gelap dan terang?
Layaknya persimpangan ambigu antara kehidupan dan kematian
Jangan takut gelap mereka berkata kepada anak kecil tanpa alas kaki yang tersenyum matanya bersinar..
Bukankah pada akhirnya kegelapan akan menjadi teman abadi?
Kenapa harus takut tanpa cahaya disaat nantipun akan menjadi kamu akan berteman dengannya?
Bukankah cahaya ada karena ada kegelapan? Ataukah sebaliknya? Kegelapan ada karena tidak ada cahaya?
Aku bukan seorang yang mampu menerjemahkan waktu, bukan pula manusia peri dengan serbuk perinya hingga ia tetap menjadi anak-anak..
Sayap sayap itu masih saja disimpan didalam lemari kaca, walaupun kegelapan mengolok-oloknya..
Cahaya hanya hadir saat keberanian membuka lemari yang terkunci itu kamu dapat dalam dirimu, bukan mengenyahkan kegelapan, bukan juga untuk membungkam kesunyian..
Hanya menghidupkan sesuatu yang layak untuk dihidupkan
Karena gelap memang selalu bersama terang...

Tasikmalaya, 3 Juni 2017


Yuli Yuliani

Kamis, 18 Mei 2017

Apa yang kamu takutkan?

Selamat pagi..
Apakabar?


Untuk sesuatu hal yang mungkin dikira akan membuat saya takut padahal tidak, semuanya berlalu begitu cepat. Sampai saya baru menyadari apa yang terjadi setelah beberapa waktu otak saya mencerna keadaan yang telah saya hadapi.
Apakah kamu merasa takut? Jujur saya menjawabnya tidak. Tidak ada kekhawatiran dan ketakukan yang muncul, saya hanya menyadari betapa merahnya saya waktu itu, betapa kerasnya suara saya pada saat itu. Hal yang paling tidak akan saya takuti adalah kekuasaan tanpa kebijaksanaan, manusia yang hanya tahu tentang dirinya sendiri tanpa ingin tahu menjadi orang lain. Otak saya tidak pernah menerima alasan apapun untuk otoritas baja yang menganggap semua salah kecuali dirinya sendiri, saya tidak tahu apakan saya juga orang yang seperti itu? Atau saya hanya orang bebas yang tidak suka dikekang?

Menjadi manusia itu rumit ternyata, emosinya beragam, tidak bisa kita tebak kemana arah emosinya membawa raganya, tidak bisa kita kira kemana ia akan melabuhkan ambisi dan keinginannya, dan tidak pernah kita tahu kemana logika menuntunnya. Terkadang aku menjadi tidak bersyukur menjadi manusia, tali disisi lain aku berterimakasih pada Tuhan telah menjadikanku manusia. Apakah semua bunga, tumbuhan dan hewan menikmati hidupnya sebelum mati entah karena dimakan atau karena sakit, apakah mereka merasa takut saat kematian mendekat?

Selasa, 16 Mei 2017

Cermin

Melihatmu, aku seperti bercermin pada cermin yang benar-benar memperlihatkan wajah asliku...
Sebelumnya saya tidak pernah tahu seperti apa rupa saya
Sebelumnya, saya tidak pernah tahu bagaimana paras saya dengan benar-benar nyata..
Kau tahu, melihatmu merefleksikan kehidupan yang benar-benar membuatku tersentak pada kesadaran begitukah rupaku sebenarnya?
Aku tidak ingin menjadi kamu, aku ingin menjadi aku..
Lagi, aku tidak pernah tahu bagaimana segalanya akan menjadi begitu nyata, seperti kilatan cahaya yang menyambar tepat dikedua mata...
Terimakasih telah mengajarkanku berpikir
Tentang ternyata aku tidak hidup sendiri

Kamis, 27 April 2017

Aku Yang Lain

Hai cuaca, aku menyapamu lagi hari ini, entah apa kamu untukku sehingga sepertinya aku tak kuasa menjaga kataku darimu..
Cuaca, aku tahu badaimu datang bahkan lebih besar dari sebelumnya..
Cuaca, aku tahu kenapa semuanya berubah
Karena akupun berubah..
Jika kau melihat mataku, apakah kau mengenaliku? Ataukah ada orang lain yang kau lihat disana?
Senjamu menjadi ungu, cuacamu menjadi biru
Aku bingung terkadang, bagaimana menebak rupamu
Atau malah engkau yang bingung menerka siapa aku?
Bukan aku dengan wajahku, bukan aku dengan jiwaku yang selama ini kau ajak bicara cuaca..
Sepertinya malam selalu menghilangkan rasaku padamu
Jika malam tiba aku seperti kembali ke rumahku, namun saat pagi tiba aku menghilang..
Cuaca, bagaimana harimu jika kau meniup jatuh daun diranting
Membuat riak air sungai, membunyikan kincir-kincir raksasa itu
Cuaca, bagaimana caramu menerbangkan anganku jauh?
Bagaimana caraku untuk tetap tinggal diatas bumi?
Karena perlahan aku terbang ketempat yang tak bertuan, melenggang dengan kaki pincang..




Cuaca..

Minggu, 02 April 2017

CUACA

Aku tak pernah merasakan cuaca seperti ini sebelumnya, cuaca yang mengubah perasaanku menjadi tidak menentu, layaknya cuaca itu sendiri. Mencoba mengenali bagaimana caranya bisa mengendalikan cuaca yang tidak menentu yang membuatku terkadang tidak nyaman berada ditempat yang sedang kuinjak, cuaca itu terkadang sangat hangat,menyejukkan, tapi bisa berubah dengan cepat pula menjadi sangat panas atau sangat dingin bahkan lebih dingin dari antartika. Saya tidak pernah tahu apa yang membuatnya terlalu cepat berubah, apakah memang karena musim begitu tak menentu? hey tapi bukankah negara ini adalah negara tropis yang hanya memiliki 2 musim saja? tapi kenapa bisa ada es yang begitu dingin yang tampak dikedua mata?, kenapa harus ada badai pasir yang menghalangi pandangan? bahkan kabut pagi terlalu tebal untuk disebut sebagai kabut.

Cuaca, tidak pernah kubayangkan aku bisa berada dalam lingkaranmu yang tak menentu, yang membuatku merasa jengah sekaligus takut, tapi anehnya aku merasakan kerinduan yang begitu besar entah pada apa dalam siklus hidupmu. Tidak pernah ada keselarasan dalam kehidupan ini sebaik Tuhan menciptakan keseimbangan jagad raya. Cuaca, kau tahu? terkadang aku berusaha untuk menarik diri saat udara hangat atau sejuk, dan aku kembali tertarik kedalam pusaran yang sama saat badai datang, saat kebekuan memenuhi seluruh tempat didunia, setidaknya bagi duniaku. Kau terlalu dalam menarikku pada persimpangan yang membuatku gamang, yang membuatku seakan aku melayang jauh tapi pada kenyataannya aku malah ditarik mundur jauh kebelakang.

Cuaca, betapa susahnya aku pergi dari setiap perubahan yang kau ciptakan, semacam insting petualang yang hidup kembali dalam asa, semakin dingin cuacamu semakin jatuh pula aku dalam kebakaan yang tak bisa kugambarkan. Bertahan denganmu pun tak akan baik, begitupun pergi tak semudah aku mengucapkan semuanya. Kata selamat tinggal akan menjadi sesuatu hal yang menyakitiku, walaupun tetap tinggal akan menjadi lebih sakit. Aku hanya menunggu waktu cuaca, menunggu hingga badaimu reda, amukku padam, dan rasaku lenyap. Pada satu masa aku akan mengatakan selamat tinggal bukan untuk membuat siapapun merasa sakit, tapi untuk membuat semua orang merasa bahagia karena pernah ada aku dihidup mereka. Bukankah kita jangan menyesali apa yang telah terjadi tapi berusahalah bersyukur bahwa semua ini pernah terjadi, setidaknya untuk membuat hatimu merasa aman walau hanya sesaat.

Cuaca, aku tahu betapa aku menjengkelkan bagimu dan sebaliknya akupun begitu membencimu, benci karena aku mempercayaimu bahwa suatu hari cuacamu akan kembali hangat dan sejuk bukan berbadai dan dingin yang menusuk. Cuaca, tak ingin kututup kisahku dengan pilu, ingin aku merasakan betapa bahagianya aku bisa ada dalam keadaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. 


Well, all I need is only acceptance from my own self, when I feel the warmth spead all over my face I should know that this feeling should not exist in my life for you, because you only can guide me into the wrong ocean that I shouldn't be in there. Everytime I fall into that feeling , I feel so guilty when I feel it seems so right but each people known that this isn't right. Come down to the deeper falling or just go swimming up until you can reach the surface. I can't help this kind of feeling sometimes make me extremely happy but I know I can't be eternally in love with that wrong weather and that ocean.