Minggu, 29 Maret 2015

Akar..

Aku tidak pernah tahu apa yang harus kurasa, kugambar, bahkan hanya untuk kupikirkan
Terlalu banyak cerita yang datang namun hanya sekilas, tapi kenapa memberikan efek yang sangat lama untuk sebuah wadah yang bernama jiwa ini?
Seperti akar tanaman yang selalu menyerap air, rasanya pot yang disiram ini terlalu penuh kelebihan air hingga akarnya membusuk hampir mati..
Segenggam bara yang menyala merah ditangan bahkan tak mampu menguapkan air yang menumpahi pot kecil yang itu..
Kadang aku bertanya, hanya kepada diri kenapa ia harus selalu bertanya?
Padahal cukup berjalan tanpa harus menoleh, padahal cukup saja diam seperti yang selalu terlihat..
Akar-akar panjang yang mencuat keluar menimbulkan rasa yang sukar tertata oleh logika, betapa merusak..
Ini itu menjadi hanya sebuah tanda tanya tanpa jawaban, ini bukan retorika!
Soe Hok Gie pernah menulis sajak sebuah tanya, ia juga merasa gelisah dengan ribuan pertanyaan yang takkan pernah dia tahu dimana jawaban itu..
Sebenarnya bukan ia tidak tahu dimana jawabannya, ia tahu kemana harus ia cari tapi ia tertawan kepingan tanya lain yang melenyapkan tanya yang satu..
Filosofi kehidupan tak akan pernah hilang, selama manusia masih dipinjamkan raga oleh Sang Pencipta..
Kadang seperti air yang mengalir, bisa kering, bisa berarus, bisa tenang, bahkan bisa banjir...
Rupa akarnya pun bermacam, rupa tanya nya pun tak kalah rumit..
Ada yang terlupa, ada yang memanjang, ada yang terlalu basah dan ada pula yang kering kerontang..
Semakin mencapai ke atas tanah, akan semakin lemah, karena itu bukan tempatnya..
Akar hanya dibawah tanah, dipermukaan tanah namanya pohon, diatas lagi ada buah..
Semakin rumit bukan, semakin banyak dan berwarna..
Tanya itu kembali bertanya dan bertanya..

Jumat, 13 Maret 2015

Bangsa ? Apa itu?

Hari ini saya benar-benar marah dengan apa yang terjadi pada drama politik Indonesia. Terlalu banyak drama, iya benar tak akan pernah ada yang menyalahkan sampai mereka-mereka sampai berbuat seperti itu karena arti dari politik itu sendiri adalah segala usaha untuk memperoleh kekuasaan, jadi mereka tidak salah memang. Jika tak berkuasa berarti mereka gagal politik dong. 
Saya tidak peduli apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perdebatkan selama mereka tidak membawa-bawa kepentingan rakyat yang selalu menjadi tameng kekuasaan. Kepentingan siapa? saya bahkan tak mengenal mereka tapi kenapa mereka bisa sampai "sok" tahu itu kepentingan kita? benar-benar aneh...

Jangan pernah membawa nama orang lain bahkan mengatasnamakan rakyat disaat sedang membela kepentingan pribadi. Jangan pernah mencoba menghancurkan Indonesia dengan isu murahan yang benar-benar menyebalkan. Demokrasi seperti apa yang sebenarnya diinginkan? bukankah kalian semua menentang liberalisme? tapi kenapa pemikiran kalian bahkan lebih liberal dari orang liberal.

Ayolah, menjadi dewasa untuk Indonesia jika memang benar hati kalian untuk Bangsa ini. Ayolah bersatu, saya jengah dengan segala sinetron ini... Jangan jajah negara sendiri ketika dulu bahkan mereka rela mati demi bebas dari penjajahan asing. Tolong, sedikit saja cintai Negeri yang sudah renta ini...

Ini adalah opini hasil demokrasi, saya minta maaf jika ada pihak yang tersinggung. Bukannya kalian menginginkan kebebasan tanpa intervensi dan tanpa batas. Maka saya juga ingin, dengan menyuarakan suara saya dengan tulisan ini. Selamat berdemokrasi tanpa batas :)

Minggu, 08 Maret 2015

Indonesia Tanah Darah

Indonesiaku Tanah Darah
Oleh : Yuli Yuliani

Aku adalah angkatan 90 an, dimana sudah tak bising suara dentuman nyaring
Sudah tak nampak bambu runcing
Aku adalah anak masa depan, bagi manusia masa lalu yang memikul pilu
Sudah tak tahu rasanya peluru
Dulu semua membisu, namun hati beradu dengan palu
Tak pernah diam, taka da suara namun langkah kaki menapak mantap dan bertapak
Pada tanah-tanah berdarah, arah itu justru terlihat
Kini, semua bersuara, semua nyaring namun tak bertapak
Hanya suara riuh gaduh dan membuat peluh berkeluh
Untuk apa dulu mereka rela memacu waktu, memerah susu namun berasa darah
Apakah hanya untuk nyanyian kosong sang anak yang malas melangkah, hanya tau berkata
Katanya kata adalah pedang, katanya kata lebih baik dari dentuman meriam
Namun, bisingnya kata tanpa langkah malah membuat jengah.. Nanar dan lelah
Langkah kaki, jiwa yang membara, mata yang terpejam berdoa kepada sang Mahacinta
Jiwa yang murni dipersembahkan kini hanya menjadi cerita yang menjadi kambing hitam para pencerita..
Bukan lagi pencinta, namun hanya pencerita..
Mulut terbuka, namun untuk apa jika hati dan logika mati tanpa cinta
Tak mampu lagi merasa cinta pada tanah berdarah ini…
Diatas gelimpangan mayat para pendiam yang berkata dengan jiwa dan darah, kini semua berkata rakyat lah yang harus berbuat..
Rakyat yang mana? Apa yang dibela..
Indonesia bukan hanya sekedar nama..
Indonesia adalah cinta
Indonesia adalah nyawa
Indonesia adalah tanah yang harus dibela
Indonesia adalah rumah yang Tuhan titipkan, untuk dicinta bukan untuk dicaci
Diamlah, bergeraklah bersama waktu.. Bersama langkah emas
Bicaralah, melangkahlah, bawalah jiwamu dalam kedalam rasa sang Garuda
Tanah darah yang menua…


Sabtu, 07 Maret 2015

Malam-Terang

Jika malam terlalu terang apakah bisa disebut malam?
Jika malam itu siang, tak pernah bertabur bintang
Dua sisi, jika terang maka gelap..
Jika gelap, semuanya sembunyi dibalik batu
Aku suka gelap, aku suka malam
Tapi aku juga ingin bertemu awan, aku ingin melihat angin
Aku suka terang, aku bisa melihat mega
Tapi, kenapa kamu selalu menjadi malam?
Hitam dan kelam, malammu memang terang sehingga kamu tak mau melihat bintang
Kamu hanya tahu tulang, tapi kamu tak tahu lembutnya kapas
Kenapa kamu suka siang? kenapa kamu tak suka malam?
Kenapa hanya suka gelap dan tak suka terang..
Padahal semuanya bersama, semuanya indah..

Selasa, 03 Maret 2015

My " Self Reflection"

Ketika isi kepala penuh dengan banyak hal yang dipikirkan, disengaja ataupun tidak akan sangat mengganggu emosi secara tidak kita sadari. Cara setiap orang untuk menumpahkan perasaan tidak nyaman yang sudah tidak tertahan itu bisa berbeda-beda, ada orang yang berteriak, ada yang melampiaskannya dengan amarah, membanting dan merusak barang, atau ada yang makan dan tidur. Semua cara itu dipercaya dapat mengendurkan kepenatan dan meredam emosi yang ada.
Saya juga memiliki cara saya sendiri ketika saya merasa kurang nyaman serta merasa emosi dalam diri saya mulai tidak stabil, cara saya mengendalikan semua ini adalah dengan cara saya "berjalan atau pergi" sendirian. Kebiasaan bepergian sendiri ini sudah menjadi kebiasaan saya sejak saya masih kecil, bisa jadi ini adalah salah satu sumber ketenangan yang bisa saya dapatkan. Pergi sendirian ini bisa saya lakukan dengan jalan kaki, naik angkot, ataupun naik motor atau apapun, ketika saya berjalan sendirian ada banyak hal yang dapat saya amati dengan nyaman tanpa orang lain, saya bisa melihat bagaimana orang-orang berprilaku dalam keseharian, bagaimana hujan bisa tiba-tiba saja turun, ataupun hanya menikmati pemandangan sawah dan merasakan angin yang berhembus. Disana, saat saya melakukan self reflection itu saya senang menarik nafas dalam-dalam dan mencoba merenungkan hal apa yang sebenarnya yang membuat saya tidak nyaman.
Karena kegiatan sendiri ini sangat menyenangkan bagi saya, setiap orangtua menyuruh saya untuk megantar atau menjemput adik saya di sekolahnya saya akan melakukannya dengan sangat senang hati karena perjalanan yang saya tempuh lumayan jauh dan sepanjang jalan disuguhi oleh pemandangan yang Subhanallah indah sekali, apalagi hari Minggu lalu ketika saya kesana untuk mengantarkan titipan untuk adik saya, pas dijalan tiba-tiba hujan turun dan rasanya didalam diri saya sangat sulit digambarkan, senang sejuk dan entahlah sulit...
Kebiasaan saya ini kadang membuat teman-teman saya mengerenyitkan dahi, banyak yang bertanya "ngapain yul, jalan-jalan sendirian? kayak anak ilang aja, apa nggak mati gaya itu?". tapi ini memang hal saya biasa lakukan, bukan berarti saya tidak pernah pergi dengan teman-teman saya, kasus ini adalah ketika saya ingin suatu perjalanan yang berdamai dengan emosi saya sendiri, perjalanan yang bisa membuat saya mengerti tentang sesuatu dan mengenali siapa saya, dan dzat yang menciptakan saya Allah SWT.

Itulah cara saya melakukan self reflection, hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kestabilan emosi..

Kamis, 19 Februari 2015

Idealisme itu mahal...

Setiap orang memiliki keinginan, tujuan dan idealisme masing-masing dalam hidupnya. Terkadang namun suatu idealisme itu menjadi sebuah musuh dalam sebuah pencapaian tujuan, bukan musuh yang menakutkan bagi diri yang memiliki idealisme tapi adalah musuh dalam pencapaian tujuan bagi idealisme lain yang tidak sepaham. Idealisme lambat laun akan terkorosi oleh waktu, akan aus dan bahkan hilang karena dianggap terlalu kaku dan bahkan banyak orang yang menyangkakan bahwa idealisme adalah gengsi, gengsi dalam artian yang tidak baik. Idealisme terhadap apapun sering dimanifestasikan dengan kata naive terhadap kehidupan, padahal idealisme berbeda dengan gengsi dan naive. Karena paksaan dan kenaifan justru membuat idealisme dalam diri manusia terkadang hilang. Sebuah prinsip yang dipegang teguh terkadang goyah oleh keadaan, goyahnya idealisme atau prinsip ini bisa saja memiliki dua ujung, karena tidak melulu idealisme adalah suatu kebenaran.

Idealisme adalah barang langka, yang mungkin saat ini hanya kata yang melengkapi sebuah kepribadian dalam riwayat hidup tapi tanpa ikrar yang jelas. Idealisme kini menjadi hal yang aneh, menjadi hal yang dihindari oleh kebanyakan orang, dianggap mengganggu dan juga tabu. Orang-oranf idealis diidentikan dengan otoriter bahkan bahasa sederhananya adalah menyebalkan. Tapi bagi orang-orang yang memiliki mimpi panjang idealisme adalah sebuah oase indah dimana ia terus menyediakan kesejukan ditengah rasa panas yang menawan. 

Kini idealisme menjadi sangat langka, dan mahal harganya. Karena mereka yang idealis harus berperang melawan waktu, melawan malu, dan melawan rasa takut walaupun idealis juga memerlukan rasa takut agar ia masih dianggap sebagai manusia, yang idealis tentunya.

Senin, 16 Februari 2015

Mendengar Suara Yang Tenggelam

Judul postingan kali ini adalah "Mendengar Suara Yang Tenggelam" , mungkin akan langsung terbayang lagi berenang di pantai tapi sambil gak bisa renang eh kelelep dan minta tolong tapi gak ada yang dengerin. Tapi yakin sih pada ngerti maksud dari judul postingan ini. Ini adalah cerita dimana saya punya pengalaman dengan suara yang tenggelam ini.
Sebagai seseorang yang cenderung lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara saya memang sangat jarang bercerita tentang apa sebenarnya yang ada dalam pikiran dan hati saya, kebanyakan orang yang saya kenal dan mejadi teman baik saya adalah orang-orang yang speak up dan selalu aktif bercerita. Menjadi seorang listener itu enak sebenarnya, karena kita bisa dapet banyak sekali pengalaman dan cerita baru walaupun kita belum pernah mengalami apa yang diceritakan seseorang kepada kita. Enaknya kita bisa tahu banyak hal, bisa tahu cara orang berpikir, cara orang mengatasi masalahnya masing-masing dari hanya mendengarkan cerita mereka. Cerita mereka yang pernah bercerita kepada saya seperti buku dongeng yang bisa bercerita sendiri, setiap babak, setiap peran, dan karakter bisa kita dapatkan sekaligus. Tapi menjadi seorang listener juga ada hal yang kurang enaknya, gak enaknya adalah karena kita terlalu terbiasa mendengarkan, kita jadi takut orang lain tidak memiliki simpati yang sama seperti yang kita berikan ketika kita mendengarkan orang lain, dan juga jarang orang yang bisa mau mendengarkan cerita si pendengar ini, bukan meng- underestimate- kan orang lain, tapi saya terkadang merasa bahwa ketika saya bercerita jarang yang bisa mendengarkan saya dengan baik karena kebanyakan dari mereka selalu mengalihkan kepada pembicaraan pribadi mereka sendiri ketika saya mulai mau bercerita. Kadang gak enak sih, berasa kalau misal mereka ngbrol selalu saya dengarkan dan berikan respon saya dan selalu fokus pada apa yang mereka ceritakan tapi ketika saya ingin balik bercerita terkadang tidak sama, saya tidak mendapat respon yang saya harapkan. 
Menjadi seorang listener itu rumit, rumit karena ekspektasi diri untuk didengarkan ketika mereka berbicara terlalu tinggi, mereka berharap respon orang lain yang mendengarkan akan minimal sama dengan apa yang mereka berikan kepada orang lain yang sedang bercerita. Hal ini saya kira karena apabila seorang listener itu mau bercerita kepada orang lain itu berarti apa yang ada dalam hatinya atau yang ia ceritakan itu merupakan hal yang sangat penting dan tidak tertahankan karena hal ini akan sangat jarang terjadi, jadi wajar saja ketika orang-orang yang tidk terlalu banyak bicara ini mengharapkan respon yang baik dari siapapun itu pendengarnya. Karena mereka hanya akan bercerita kepada orang yang mereka anggap nyaman untuk bicara dan percayai.
Selama ini saya pribadi belum mendapatkan seorang pendengar yang baik dan mampu mengerti apa yang saya rasakan dan pikirkan selain orang tua saya, kebanyakan hanya mendengar sambil lalu dan akhirnya lupa. Tapi pernah ada satu orang yang mampu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut saya disaat semua orang tidak mendengar dan tidak memberikan respon apapun atas kalimat yang saya sampaikan. Saya cukup terkejut dengan hal itu, karena hanya orang itu yang mampu menangkap suara saya yang tenggelam diantara yang lain yang bahkan teman baik saya pun waktu itu tidak dapat menjangkau suara saya.
Ada dua hal yang menjadi mungkin, pertama : dia adalah seorang listener juga atau dia adalah kombinasi dari speaker dan listener. Apapun itu saya ucapkan terimakasih kepada dia yang waktu itu menjangkau suara saya yang tenggelam jauh didasar. Terimakasih mau mendengar si pendengar ini. Jadi itulah yang ingin saya sampaikan bahwa menjadi seorang pendengar itu antara menyenangkan dan menyebalkan..


Yuli Yuliani