Jumat, 05 Januari 2018

Barang Rongsokan


BARANG RONGSOKAN
Oleh : Yuli Yuliani


Terpekur disudut ruang
Tercecer dan usang
Tak layak guna, hanya sekarung sampah barang rusak
Berdebu dan dibiarkan
Seolah sisa nafasnya menderu menghirup rakus
Meminta disapa tapi tak ada yang peduli
Hanya keranjang sampah
Rongsokan tak berguna...
Meronta mencari suara
Menggantung tanpa makna
Asa itu lenyap, lesap, jauh...

Cukup kau jual ia dengan harga 2000 maka kau jadi berguna
Yah hanya seharga itu rongsokan busuk
Tak jua mengerti harusnya tak banyak cakap
Menuntut hanyalah bunyi kosong pada tuli
Coba kau beri pita!
Pita merah muda yang manis merona
Apa yang kau dapat rongsokan tua?
Cacian bagai tak tahu adat
Mana ada barang rongsokan yang jelita?
Mimpi sahaja kau wanita tua..
Mungkin selamanya tempatmu disana,
Disudut tak terlihat, gudang busuk, bahkan penampungan sampah
Lebih baik bukan?
Daripada harus meregang nyawa iba pada jiwa
Yang lantas tak pernah melambai..





Rabu, 27 Desember 2017

Perihal Kesempatan

Sejenak berpikir tentang masalah hidup dan kematian yang tidak akan pernah dapat saya perhitungkan kapan ia dapat datang dan pergi. Sejenak memikirkan setiap kemungkinan yang hadir, gelisah dan seketika rasa takut menyergap sebuah kesadaran, meninju lonceng didalam kepala yang berasal dari sebuah logika yang mungkin tak pernah mencapai kata sepakat tentang sebuah konsep spiritualitas, yah kehidupan kedua pada alam lain yang tak pernah dapat dipecahkan misterinya oleh otak kerdil mahluk yang bernama manusia, bahkan oleh mereka yang paling jenius sekalipun. Meniti tentang kegelisahan yang dirasakan setiap manusia dalam upaya pencariannya membuat saya berpikir betapa Indah dan cerdasnya Sang Pencipta mencipta alur, membuka jalan, membiar plot yang sama sekali berbeda antara satu dan lainnya, begitu teliti, begitu apik, begitu presisi, semuanya sempurna, menyentak, mengharu, pada akhirnya Sang Pencipta mempertemukan mereka pada muara pencarian yang sama dengan antisipasi yang begitu hebat tanpa cela. Subhanallah..
Menyoal pencarian manusia akan eksistensi Tuhan dalam hidupnya, setiap manusia telah Allah beri jalan yang berbeda-beda, ada yang dihadang kesakitan, ditikam pengkhianatan, diterpa badai ketidakberuntungan, bahkan dengan gelimang kemudahan. Jarum keimanan manusia itu berputar, kadang ada diatas, ditengah, dan pernah ada pada level terendah sekalipun, dan menurut otak dan hati kerdil saya ini semua hal itu adalah hal yang memang wajar terjadi karena hal itulah yang memanusiakan kita, kita bukan penghuni langit yang Allah tidak berikan kepadanya nafsu. Nafsu dan akal tentu adalah sebuah keistimewaan yang Allah hanya berikan kepada mahluknya yang bernama manusia.

Satu hal yang berbunyi nyaring dan bersuara keras saat ini dikepala adalah "hey loe bukan orang yang punya keberuntungan besar didunia, apa loe juga mau jadi orang yang rugi di Akhirat sana? Memang loe pikir sampe kapan Allah bakal kasih loe waktu sama kesempatan buat loe perbaikin apa yang harus loe perbaikin didunia ini? This life isn't your finish line, this is the beginning but it is your train to call your next destination" dan seketika itu tubuh saya menegang, pikiran saya berkecamuk tentang sebuah Kesempatan. Selalu meminta Allah untuk memberikan saya kesempatan untuk saya dapat memperbaiki diri saya, mencari form keimanan saya yang mungkin tercecer karena uruasan kasat mata, semoga Allah masih berkenan memberikan kesempatan itu lagi dan lagi setiap saya kembali melanggar suatu tekad, suatu janji. Pada titik ini saya tahu, bahwa Allah selalu memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk kembali padanya selama jarum kehidupannya masih berdetak, lantas siapa lagi yang harus dimintai ijinnya untuk kesempatan menemukan itu? I found you my self, satu-satunya pihak yang harus memberikan kesempatan benenah adalah diri kita sendiri, yah karena jika diri kita sendiri tidak mampu memberikan kesempatan itu maka pengulangan akan kesalahan adalah hal yang pasti terjadi. Saat ini saya masih mencoba memohon pada dia yang ada didalam sana untuk memberikan saya kesempatan menemukan itu, saya sudah ada pada track yang benar, pada path yang Allah siapkan, jadi I just need to go straight untill the finish line..


Tasikmalaya, 27 Desember 2017


Yuli Yuliani


Minggu, 20 Agustus 2017

Kamu yang Tidak Bernama

Hari ini, tanggal 22 Agustus 2017 semenjak bangun dipagi hari aku memulai hari dengan rasa bingung, rasa sedih, seolah tidak menapakkan kaki diatas tanah. Aku berpikir keras kenapa hatiku bisa terasa seaneh ini, sehampa ini, setidak menyenangkan ini, sebenarnya apa yang aku pikirkan? Kenapa rasanya sedikit sesak didada, sakit sekali...
Seketika aku mengingatmu, aku memikirkanmu tapi yang membuatku semakin bingung adalah siapa kamu sebenarnya? Aku sibuk sekali memikirkan bagaimana hidupmu, untuk pertama kalinya aku memikirkan masa depan orang lain yang bahkan tidak aku ketahui siapa orangnya. Untuk pertama kalinya aku merasa tergoyahkan oleh pemikiran yang begitu memenuhi pikiran dan hati seperti gas helium yang menyusupi rongga dada, parau..
Kamu, yang tak bernama apakah kamu juga memikirkan apa yang terjadi kepadaku? Memikirkan bagaimana kehidupanku? Memikirkan bagimana nantinya kita akan bertemu..
Kamu, yang tidak bernama. Mungkin nanti aku akan menceritakan semua kisahku padamu, lewat sebuah rasa yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya..
Kamu, yang tidak bernama. Aku sungguh mengkhawatirkanmu, semoga kamu baik-baik saja..
Dalam langkah gontai, lalu terduduk lesu memandang tulisan ini aku hanya memikirkanmu, memikirkan bagaimana rupamu, bagaimana caramu akan mengenalku nanti, dan bagaimana caranya aku tahu namamu...



Jakarta, 21 Agustus 2017
Stasiun Pasar Senen,


YULI YULIANI

Kamis, 06 Juli 2017

Perempuan dalam Cermin

Berkelebat dibelakangku..
Dalam raga yang menyertaiku, aku temukan dia yang diam didalam kulit..
Menyeruah membuncah didada, ia berteriak dengan hatinya
Seperti gelombang yang tiba-tiba datang, tanganpun tak mampu menghalaunya..
Sinar matahari membuat murkanya meledak, menasihati air karena hilang..
Kamu, perempan bisu yang metatapku nanar dan sayu
Kenapa rupamu tak mau hilang, kau menyeretku kedalam tatapan yang menyentakanku..
Aku tenggelam dimatamu yang merah..
Aku tak bisa pulang, aku ingin keluar..
Kau menawanku dengan kejam, menarikku pada nestapamu
Kamu, perempuan dalam cermin yang memecahkan gong kesabaran, pergilah.. biar aku menjadi diriku
Biarkan aku melangkah maju menghadapi rasa takutku
Kembalikan gong yang kau curi...
Wahai kamu, perempuan dalam cermin.. bolehkah aku pecahkan saja sosokmu didepanku.
Perempuan dalam cermin, pergilah aku ingin sendiri..

Sabtu, 03 Juni 2017

Mundur

Dalam buaian malam yang panjang, dimana sayap-sayap itu disimpan didalam lemari kaca..
Sinarnya membutakan mata, menertawakan gelap
Jika saja dia menyandingkan keduanya dalam satu masa, maka apakah temaram menjadi persimpangan antara gelap dan terang?
Layaknya persimpangan ambigu antara kehidupan dan kematian
Jangan takut gelap mereka berkata kepada anak kecil tanpa alas kaki yang tersenyum matanya bersinar..
Bukankah pada akhirnya kegelapan akan menjadi teman abadi?
Kenapa harus takut tanpa cahaya disaat nantipun akan menjadi kamu akan berteman dengannya?
Bukankah cahaya ada karena ada kegelapan? Ataukah sebaliknya? Kegelapan ada karena tidak ada cahaya?
Aku bukan seorang yang mampu menerjemahkan waktu, bukan pula manusia peri dengan serbuk perinya hingga ia tetap menjadi anak-anak..
Sayap sayap itu masih saja disimpan didalam lemari kaca, walaupun kegelapan mengolok-oloknya..
Cahaya hanya hadir saat keberanian membuka lemari yang terkunci itu kamu dapat dalam dirimu, bukan mengenyahkan kegelapan, bukan juga untuk membungkam kesunyian..
Hanya menghidupkan sesuatu yang layak untuk dihidupkan
Karena gelap memang selalu bersama terang...

Tasikmalaya, 3 Juni 2017


Yuli Yuliani

Kamis, 18 Mei 2017

Apa yang kamu takutkan?

Selamat pagi..
Apakabar?


Untuk sesuatu hal yang mungkin dikira akan membuat saya takut padahal tidak, semuanya berlalu begitu cepat. Sampai saya baru menyadari apa yang terjadi setelah beberapa waktu otak saya mencerna keadaan yang telah saya hadapi.
Apakah kamu merasa takut? Jujur saya menjawabnya tidak. Tidak ada kekhawatiran dan ketakukan yang muncul, saya hanya menyadari betapa merahnya saya waktu itu, betapa kerasnya suara saya pada saat itu. Hal yang paling tidak akan saya takuti adalah kekuasaan tanpa kebijaksanaan, manusia yang hanya tahu tentang dirinya sendiri tanpa ingin tahu menjadi orang lain. Otak saya tidak pernah menerima alasan apapun untuk otoritas baja yang menganggap semua salah kecuali dirinya sendiri, saya tidak tahu apakan saya juga orang yang seperti itu? Atau saya hanya orang bebas yang tidak suka dikekang?

Menjadi manusia itu rumit ternyata, emosinya beragam, tidak bisa kita tebak kemana arah emosinya membawa raganya, tidak bisa kita kira kemana ia akan melabuhkan ambisi dan keinginannya, dan tidak pernah kita tahu kemana logika menuntunnya. Terkadang aku menjadi tidak bersyukur menjadi manusia, tali disisi lain aku berterimakasih pada Tuhan telah menjadikanku manusia. Apakah semua bunga, tumbuhan dan hewan menikmati hidupnya sebelum mati entah karena dimakan atau karena sakit, apakah mereka merasa takut saat kematian mendekat?

Selasa, 16 Mei 2017

Cermin

Melihatmu, aku seperti bercermin pada cermin yang benar-benar memperlihatkan wajah asliku...
Sebelumnya saya tidak pernah tahu seperti apa rupa saya
Sebelumnya, saya tidak pernah tahu bagaimana paras saya dengan benar-benar nyata..
Kau tahu, melihatmu merefleksikan kehidupan yang benar-benar membuatku tersentak pada kesadaran begitukah rupaku sebenarnya?
Aku tidak ingin menjadi kamu, aku ingin menjadi aku..
Lagi, aku tidak pernah tahu bagaimana segalanya akan menjadi begitu nyata, seperti kilatan cahaya yang menyambar tepat dikedua mata...
Terimakasih telah mengajarkanku berpikir
Tentang ternyata aku tidak hidup sendiri